URGENSI PEMBELAJARAN MEMBACA DAN MENULIS AKSARA DEVANAGARI

URGENSI PEMBELAJARAN MEMBACA

DAN MENULIS AKSARA DEVANAGARI

 Oleh: Suyono

suyono_gunawan_sindhunata@yahoo.com

085380519528

 STAH Lampung

Abstrak: Kahadiran seorang guru menjadi kebahagiaan tersendiri bagi siswa-siswinya. Bagi mereka, guru adalah orang tua yang kedua setelah orang tua di rumah. Anak didik semakin termotivasi dalam melaksanakan tugasnya sebagai peserta didik. Seorang guru yang tanpa lelah membimbing peserta didiknya untuk mencapai prestasi yang setinggi-tingginya. Dalam halini guru menyampaikan materi dengan kegembiraan dan senyum ramah dari peserta didik. Melihat kondisi siswa yanng tidak tahu akan Aksara Devanagari yang menjadi tulisan dalam kitab suci Agama Hindu, dengan ini mengharapkan peserta didik semakin mahir belajar Aksara Devanagari yang menjadi harapan kita semua. Adapun manfaat dalam penelitian ini tiada lain mengajak peserta didik bisa membaca dan menulis aksara Devanagari yang menjadi tulisan dalam kitab Suci Veda. Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi suswa-siswi SD Santi Adnyana dan masyarakat padaumumnya dan juga mahasiswa STAH Lampung pada khususnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan kajian pustaka. Analisis data didapat dengan pendekatan analisis kualitatif. Berdasarkan pengamatan langsung dan wawancara dengan nara sumber yang ada. Dengan memyampaikan pembelajaran membaca dan menulis Aksara Devanagari diharapkan siswa-siswi SD Santi Adnyana semakin pandai dalam belajar membaca dan menulis aksara Devanagari.

Dari hasil pengamatan menunjukkan arah yang positif. Saran ditujukan kepada semua guru pendidikan Agama Hindu dan mahasiswa STAH Lampung untuk semakin giat dalam mempelajari membaca dan menulis Aksara Devanagari agar dapat ditularkan pada siswa-siswi didaerah tempat tinggalnya masing-masing. Dengan harapan anak-anak Hindu mampu membaca dan menulis Aksara Devanagari dan mampu memahami arti dari Sloka yang tertulis dalam Kitab Suci Veda dan pustaka suci lainnya.

Kata kunci: Pembelajaran Membaca dan Menulis Aksara Devanagari

PENDAHULUAN

Pembelajaran Aksara Devanagari masih sangat langka yang menguasai baik yang ditingkat dasar maupun tingkat mahir apalagi hingga membaca lancar Aksara Devanagari. Selama ini hanya orang-orang tertentu sajayang bisa membaca dan menulis Aksara Devanagari. Tugas seorang pendidik Agama Hindu selain mengajarkan kesusilaan dan bagaimana menjadi Hindu yang sejati tentunya harus diimbangi dengan pengetahuan lain yang merupakan pendukung dalam ajaran Veda.

Proses pembelajaran Veda menjadi lengkap bila Aksara Devanagari dapat kita kuasai. Apalagi mampu menyalurkan kepada anak didik kita yang merupakan generasi penerus Hindu di masa depan yang sekarang masih menjadi tanggung jawab kita bersama. Peran guru sangat penting dalam membimbing peserta didik dalam mempelajari Aksara Devanagari. Guru sebagai acuan dalam menyerap ilmu pengetahuan yang disampaikan kepada peserta didik. Peserta didik dapat menerima apa yang disampaikan oleh guru, jika guru menguasai materi yang disampaikan dengan sempurna. Penyampaian meteri Aksra Devanagari yang diimbangi dengan metode pembelajaran yang menyenangkan mampu diserap oleh peserta didik dengan maksimal. Selain kurangnya pengguasaan tenaga pengajar dalam penyampaian Aksara Devanagari, pelajaran Aksara Devanagari tidak dimasukan sebagai kurikulum tambahan dalam pelajara pendidikan Agama Hindu dan tidak adanya buku penunjang untuk tingkat sekolah dasar yang membahas tentang materi Aksara Devanagari menjadi penghambat bagi tenaga pengajar pendidikan Agama Hindu.Selain itu buku pelajaran Dasar-dasar Aksara Devanagari khusus untuk sekolah dasar tidak pernah dibuat sebagai menunjang tenaga pengajar dalam penyampaian Aksara Devanagari. Kebanyakan buku yang dibuat hanya untuk tingkat pergururan tinggi yang semestinya sudah mempelajari Bahasa Sanskerta sebagai lanjutan dari pelajaran dasarAksara Devanagari.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah, rumusan perma-salahan sebagai berikut:

  1. Apasaja materi yang harus diajarkan dalam pengenalan Aksara Devanagari di Pasraman?
  2. Apakah factor–factoryang menghambat Aksara Devanagari tidak diajarkan di Pasraman?

Setiap penelitian pasti mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Adapun tujuan yang ingin penulis capai dalam penelitian ini tiada lain adalah memperkenalkan dasar-dasar Aksara Devanagari kepada peserta didik tingkat sekolah dasar pada khususnya dan umat Hindu pada umumnya. Selain memperkenalkan Aksara Devanagari, penulis juga mengharapkan kepada tenaga pengajar Agama Hindu untuk ikut serta dalam mengenalkan Aksara Devanagari di tempat mengajar didaerahnyamasing-masing. Menghilangkan faktor-faktor yang menghambat dalam pelajaran Aksara Devanagari menjadi pemicu dalam penyampaian pembelajaran Aksara Devanagari.

METODE PENELITIAN

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Metode Historis adalah cara penelitian dengan mempelajari fakta, dan peninggalan sejarah di masa lalu.
  2. Metode Survei Deskriptif adalah cara penelitian dengan meng-utamakan pengamatan terhadap gejala, peristiwa dan kondisi aktual di masa sekarang.

Metode historis dan metode survei penulis gunakan sebagai perbandingan terhadap perubahan zaman sekarang dengan zaman lampau. Dengan menggunakan perbandingan tersebut penulis dapat menemukan perubahan yang terjadi terhadap masalah yang penulis angkat pada latar masalah. Perubahan yang terjadi terhadap pembelajaran kitab suci Veda telah mengalami perubahan yang sangat drastis dan dapat dibuktikan dalam sejarah perkembanganj agama Hindu dengan perkembanganh agama Hindu zaman sekarang. Perbedaan yang terjadi terletak pada pengajaran kitab suci Veda dan penyampaian ajaran yang secara langsung oleh Maha Rsi dengan melalui Asram-asram.

Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut observasi, wawancara dan kepustakaan. Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian di Pasraman Santi Adnyana. Observasi dilakukan untukmendapatkan data yang lengkap mengenai permasalah yang terjadi di Pasraman tersebut.Dalam penelitian ini penulis mencari sumber informasi dari guru Pendidikan Agama Hindu mengenai pembelajaran Akara Devanagari untuk mendapatkan informasi yang jelas dan akurat. Wawancara berdasarkan pelaksanaannya dibagi dua yaitu: wawancara berstruktur adalah wawancara secara terencana yang berpedoman pada daftar pertanyaan yang dipersiapkan sebelumnya. Dalam teknik ini penulis mencariinformasi tambahan mengenai opini masyarakat dan orang tua murid mengenaipembelajaran Aksara Devanagari. Berdasarkan hasilnya ternyata mendapatkan tanggapan yang positif dari masyarakat dan orang tua murid mengenai pembelajaran Aksara Devanagari yang penulis ajarkan pada siswa Pasraman Santi Adnyana.Kepustakaan dalam penelitian digunakan sebagai bahan reverensi dalam penyampaian pembelajaran Aksara Devanagari. Kepustakaan diambil dari Catur Veda Samhita, Bhagawad Gita, dan pustaka suci lainnya digunakan sebagai perbandingan bentuk tulisan dan menjelaskan aturan-aturan dalam penulisan aksara devanagari.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Materi yang Harus Diajarkan dalam Pengenalan Aksara Devanagari

Hasil penelitian yang penulis lakukan dalam pembelajaran membaca dan menulis Aksara Devanagari, ada beberapa hal yang perlu dipelajari sebagai dasar dalam belajar Aksara Devanagari. Dari dasar inilah mulai diadakan pengembangan dan variasi dalam belajar Aksara Devanagari. Adapun dasar-dasar dalam belajar Aksara Devanagari adalah sebagai berikut:

 Aksara Vokal (Svara)

Vokal (svāra) dalam abjad devanāgarī berjumlah 15 buah lihat tabel:

NO Dasar Ucapan Pendek (Hṛasva) Panjang (Dīrgha)

 

1 Kaṇṭhya

Guturals

 

A (a) Aa (ā)
2 Talavya

Palatals

 

—  (i) ¡ ī
3 Oṣṭhya

Labial

 

£  (u) ¤ (ū)
4 Mūrdhanya

Linguals

 

¨ (ṛ) © (ṝ)
5 Daṇṭya

Dentals

 

ª (ḷ)
6 Kaṇṭhya-Talavya

Guturo-Palatals

 

E (e) / Ee (ai)
7 Kaṇṭhya- Oṣṭhya

Guturo-Labials

 

Ao (o)/AO(au)

 

Bentuk vokal perubahan

No. Nama Svara (vokal) Bentuk
1 Anusvara  A’   ( ṁ ) _

 

2 Visarga A”( ḥ )

 Aksara Konsonan (Vyanjana)

Jumlah konsonan (vyañjana) sebanyak 33 buah seperti tersebut di bawah ini

No Dasar Ucapan Varga Konsonan/Vyañjana
Pancavalimukha SemiVok/Antahstah Bunyi Desis Aspirat
Tajam Lembut Nasal
1

 

Guttural/ kaṇṭhya

 

 k

ka

k %

ka kha

g`

ga gha

;

ṅa/nga

     
2 Palatals/ Talavya c

ca

c  ^

ca   cha

j  &

ja  jha

Å

ña

y

ya

x

śa

 
3 Linguals/ Mūrdhanya $

ṭa

$  #

ṭa   ṭha

!  @

ḍaḍha

,

ṇa

r

ra

z

ṣa

 
4 Dentals/ Danthya t

ta

 t  q

ta   tha

d  /

da dha

n

na

l

la

s

sa

 
5 Labials/ Osthya p

pa

p  f

pa  pha

b  .

ba bha

m

ma

v

va

  h

ha

Sandangan

Vokal selain vokal A (a) apabila digabung dengan konsonan di depannya, maka vokal tersebut berubah bentuk menjadi suatu tanda yang disebut svaracihnāni atau sandhangan.

 

Sandhangan adalah bentuk lain dari vokal (svara) yang digunakan untuk membentuk bunyi lain dari konsonan (vyañjana). Adapun bentuk sandhangan tersebut adalah sebagai berikut:

Svara Bentuk sandangan Penggunaan Svara Bentuk Sandangan Penggunaan
A (a)
Aa (ā) a ram” (Rāmaḥ) E (e) e kex” (Keśaḥ)
— (i) I ixv” (Śivaḥ) Ee (ai) W dWvm_ (Daivam)
¡ (ī) I gIt  (Gīta) Ao (o) O lok” (Lokaḥ)
£ (u) u bu/” (Budhaḥ) AO(au) O `OrI  (Ghaurī)
¤ (ū) U dUt” (Dūtaḥ) A’ (aṁ) k’s”  (Kaṁsaḥ)
¨ (ṛ) * nfTt’ (Nṛttaḥ) A” (aḥ) nr”   (Naraḥ)
© (ṝ) F iptF,am_ (Pitṝnam) ª (ḷ) « k«Ptm_

(Kḷptam)

 

Pasangan

Bentuk Konsonan Murni(Pasangan)

 

k = k_ — K… kh = %_–:… g = g_ — G… gh = `_ — ~… ṅ = ;_ –;..
c = c_ — C.. ch = ^_– ^.. j = j_ — J… jh = &_ — J… ñ = Å_ — H…
ṭ= $_ — $… ṭh = #_ — #… ḍ = @_ — @… ḍh = !_ — !… ṇ = ,_ — <…
t = t_ — T… th = q_ — Q… d = d_ — d… dh = /_ — ?… n = n_ — N…
p = p_ — P… ph = f_ — F.. b = b_ — B… bh = ._ — >… m = m_ — M…
y = y_ — Y… r = r_    ..R. l = l_ — L… v = v[ — V… ś = x_– ç..S..
ṣ = z_– Z… s = s_ — S… h = h_ — h… ḥ= “ ṁ = ...
rṛ =  ¨R rṝ= ©R kṣ = =_ — +.. ru =  ä Rū = À

 

Penggabungan Svara dengan Svara

a (A) + a (A)  = ā  (Aa) i (—) + i (—) = ī (¡)
u  (£) + u ( £ )  = ū (¤) a (A) + i (—)  = ai (Ee) = e (E)
a  (A) + u ( £ ) = au (AO) = o (Ao)  

 

Penggabungan Konsonan dengan vokal

Ka = k Kha =% Ga = g Gha = ` ṅa = ;
Kā = ka Khā = %a Gā = ga Ghā = `a ṅā =;a
Ki = ik Khi = i% Gi = ig Ghi = i` ṅi = i;
Kī = kI Khī = %I Gī = gI Ghī = `I ṅī = ;I
Ku = ku Khu = %u Gu =gu Ghu =`u ṅu = ;u
Kū = kU Khū = %U Gū = gU Ghū = `U ṅū = ;U
Ke = ke Khe = %e Ge = ge Ghe = `e ṅe = ;e
Kai = kW Khai = %W Gai = gW Ghai = `W ṅai = ;W
Ko = ko Kho = %o Go = go Gho =`o ṅo = ;o
Kau = kO Khau = %O Gau = gO Ghau = `O ṅau = ;O
Kaṁ = k’ Khaṁ = %’ Gaṁ = g’ Ghaṁ = `’ ṅaṁ= ;’
Kaḥ = k” Khaḥ = %” Gaḥ = g” Ghaḥ = `” ṅaḥ = ;”

Penggabungan Konsonan dengan Konsonan (sayukta vyañjana)

Ada dua macam penggabungan konsonan yaitu:

  1. Menggabungkansecara berse-belahan
kka = ´ / kk kkha = K% kta = Kt / µ ktya = KTy ktta = KTt
bbha = b. ksma = +m ghya = ~y jma = Jm jjha = J&
kta = K$ khya = :y ghma = ~m dghya = % nma = Nm
jva = Jv scha = S^ stya = STy ttha = Tq ṣṭha = Z#

 

  1. Menggabungkan bersusun
kka = ´ ṅṅa = g ṅga = 5 ṭṭa = 9 ṭṭha = 0
ṭga = % ḍḍa = “ hna = ê ṭsa = b / Ts ḍga = !

 


Persadian

  1. Sadhi Vokal (svarasadhi)

Vokal  akhir suatu kata dan vokal awal suatu kata diluluhkan, sehingga terdapatlah bentuk baru yang biasanya berbeda dibandingkan dengan vokal aslinya. Peluluhan atau persambungan semacam ini disebut svārasaṁdhi.

  • Vokal a atau ā pada akhir suatu kata di-saṁdhi-kan dengan vokal a atau ā yang menjadi awal kata berikutnya, menimbulkan per-saṁdhi-an berupa vocal ā,contoh :
  • sveta (Svet) + aśvena (Aëen) = svetāśvena (Svetaëen) ‘dengan seekor kuda putih’
  • deva (dev) + adhipa (Aai/p) = devādhipa (devai/p) ‘seorang raja deva’
  • kanyā (kNy) + ari (Air)=kanyāri (kNyair) ‘seorang musuh wanita’
  • mahā (mha) + ākāśe (Aakxe = mahākāśe(महाkxe) ‘langit besar/uttama’
  • mahā (mha) + aśvena (Aëen) = mahāśvena (mhaëen) ‘dengan seekor kuda besar’
  • Vokal a atau ā pada akhir suatu kata bila di-samdhi-kan dengan vocal i atau ī yang menjadi awal kata berikutnya maka akan menjadi bentuk per-saṁdhi-an berupavocal e.contoh:
  • sītā (sIta) + iccha (—C^) = sīteccha (sIteC^) ‘ keinginan sītā ‘
  • nara (nr) + Indra (¡Nd–) = narendra (nreNd–) ‘ anak indra ‘
  • mahā (mha) + Īśvara (¡ër) = maheśvara (mheër) ‘ Īśvara yang agung/Tuhan’
  • parama (prm) + Īśvara (¡ër) = parameśvara (prmeër) ‘gelar Tuhan‘
  • Vokal a atau ā pada akhir suatu kata di-samdhi-kan dengan vocal u atau ū yang menjadi awal kata berikutnya maka akan menjadi bentuk per-samdhi-an berupa vokal o. contoh :
  • vṛka (vfk) + udara (£dr) = vṛkodara (vfkodr) ‘berperut srigala/nama lain Bima’
  • dīrgha (dI`R) + ūruḥ (¤ä”) = dīrghoruḥ (dI`oRä”)  ‘berpaha panjang/belalang’
  • mahā (mha) + ūruḥ (¤ä”) = mahoruḥ (mhoä”) ‘berpaha besar’
  • gaṅga (g½) + udaka (£dk) = gaṅgodaka (g½odk)‘air sungai gaṅga’
  • Vokal a atau ā pada akhir suatu kata di-saṁdhi-kan dengan vocal ṛ atau ṝ yang menjadi awal kata berikutnya maka akan menjadi bentuk per-samdhian berupa vocal ar. contoh :
  • deva (dev) + ṛṣi (¨iz) = devarṣi (devizR) ‘pendeta deva’
  • mahā (mha) + rṛddhika (¨i×k) = mahārddhika (mhai×Rk) ‘kebebasan, merdeka’
  • mahā (mha) + ṛṣi (¨iz) = mahārṣi (mhaizR) ’pendeta agung’
  • atra (A]) + ṛṣi (¨iz) = atrarṣi (A]izR) ‘seorang ṛṣi disini
  • Vokal a atau ā pada akhir suatu kata bila di-saṁdhi-kan dengan vocal o atau au yang menjadi awal kata berikutnya, maka akan menjadi bentuk per-saṁdhi-an berupa vokal au. contoh :
  • ghaṭa (`$) + odhanam (Ao/nm_) = ghaṭaudhanam (`$O/nm_) ‘periuk nasi
  • ghaṭa (`$) + oṣadhi (Aozi/) = ghaṭauṣadhi (`$Ozi/) ‘periuk obat’
  • mahā (mha )+ auṣadham (AOz/m) = mahauṣadham (mhoz/m_) ‘obat utama’
  • indra (—Nd) + audarya (AOdyR) = indraudarya(—Nd(OdyR) ‘keagungan indra’
  • Vokal a atau ā pada akhir suatu kata bila di-samdhi-kan dengan vokal e atau ai yang menjadi awal kata berikutnya, maka akan menjadi bentuk per-samdhi-an berupa vokal ai. contoh :
  • ca (c) + airāvataḥ (Eeravt”) = cairāvataḥ (cWrvt”) ‘dan gajah Indra’
  • deva (dev) + aiśvarya (EeëyR) = devaiśvarya (devWëyR) ‘kekuasaan deva’
  • kulatā (kulta) + aindrajālā (EeNd[[jala) = kulataindra jālā (kultWNd[jala) ‘perempuan penyihir nista’
  • Vokal i atau ī pada akhir suatu kata di-saṁdhi-kan dengan vocal i atau ī yang menjadi awal kata berikutnya, maka akan menjadi bentuk per-saṁdhi-an berupa vocal ī. contoh :
  • bhavati (.vit) + iti (—it) = bhavatīti (.vtIit) ‘adalah demikian’
  • nadī (ndI) + iva (—v) = nadīva (ndIv)’bagai sungai’
  • iti (—it) + iva (—v) = itīva (—tIv) ‘sebagai itu/demikianlah’
  • kuṣumani (kuzumin) + Īśvaraṁ (¡ër’) = kuṣumanīśvaraṁ(kuzumnIër’) ‘bunga-bunga untuk Tuhan’
  • Vokal i atau ī pada akhir suatu kata di-saṁdhi-kan dengan selain vokal i atau ī yang menjadi awal kata berikutnya, maka akan menjadi bentuk per-saṁdhi-an berupa konsonan y. contoh :
  • nadī (ndI) + atra (A]) = nadyatra (nÛ]) ‘sungai disini’
  • nadī (ndI) + asti (ASit) = nadyasti (nÛiSt) ‘adalah sungai’
  • ṭṛnāni ($fnain) + atti (Aitt)= ṭṛnānyatti ($fnaNyit) ‘ia makan rumput’
  • namati (nmit) + agnim (AiGnm_) = namatyagnim (nmTyiGnm_)‘ia menghormati api/agni’
  • Vokal u atau ū pada akhir suatu kata di-saṁdhi-kan dengan vokal u atau ū yang menjadi awal kata berikutnya, maka akan menjadi bentuk per-saṁdhi-an berupa vokal ū. contoh :
  • bhanu (.nu) + udayaḥ (£dy”) = bhanūdayaḥ (.nUdy”) ‘matahari terbit’
  • guru (guä) + ūcuḥ (¤cu”) = gurūcuḥ (guåcu”) ‘perkataan guru’
  • vaneṣu (vnezu) + uragaḥ (£rg”) = vaneṣūragaḥ (vnezUrg”) ‘ular di hutan’
  • camū (cmu) + ūrjaḥ (¤jR”) = camūrjaḥ (cmUjR”) ‘seorang perajurit hidup’
  • Vokal u atau ū pada akhir suatu kata bila di-saṁdhi-kan dengan selain vokal u atau ū yang menjadi awal kata berikutnya, maka akan menjadi bentuk per- saṁdhi-an berupa konsonan v. contohnya :
  • vaneṣu (vnezu) + atra (A]) = vaneṣvatra (vneZv]) ‘ke hutan disini’
  • madhu (m∕u) + atra (A]) = madhvatra (m?v]) ‘madhu disini’
  • sadhu (s∕u) + iti (—it) = sadhviti (si?vit) ‘demikian pendeta’
  • madhu (m∕u) + atti (AiTt) = madhvatti (m?viTt) ‘makan madhu’
  • Vokal ṛ atau ṝ pada akhir suatu kata bila di-saṁdhi-kan dengan vocal ṛ atau ṝ yang menjadi awal kata berikutnya, maka akan menjadi bentuk per-saṁdhi-an berupa vokalṝ. contohnya :
  • kartṛ (ktfR) + ṛṣi (¨iz) = kartṝṣi (ktRFiz) ‘pendeta pengarang’
  • pitṛ (iptf) + ṛṣi (¨iz) = pitṝṣi (iptFiz) ‘bapak pendeta’
  • matṛ (mtf) + ṛsva (¨Sv) = matṝsva (mtFSv) ‘ibu mulia’
  • matṛ (mtf) + ṛte (¨te) = matṝte (mtFte) ‘kecuali,tanpa ibu’
  • Vokal ṛ atau ṝ pada akhir suatu kata bila di-saṁdhi-kan dengan selain vokal ṛ atau ṝ yang menjadi awal kata berikutnya, maka akan menjadi bentuk per-saṁdhi-an berupa konsonan r. contohnya :
  • matṛ (mtf) + iti (—it) = matriti (mi]it) ‘demikian ibu’
  • kartṛ (ktRf) + iha (—h) = kartriha (ki]Rh) ‘pengarang disini’
  • kartṛ (ktRf) + adhunā (A∕una) = kartradhunā (k]R∕una) ‘pengarang sekarang’
  • pitṛ (iptf) + atra (A]) = pitratra (ip]]) ‘ayah disini’
  • Vokal e atau o pada akhir suatu kata bila di-samṁdhi-kan dengan vokal a pada awal kata berikutnya, maka vokal e atau o itu tidak berubah, tetapi vokal a diganti dengan avagraha ‘ (ऽ) contohnya :
  • gṛhe (gfhe) + atra (A]) = gṛhe’tra (gfhe_]) ‘ke rumah disini/disana’
  • vane (vne) + atra (A]) = vane’tra (vne_]) ‘ke hutan disana/disini’
  • bhano (.no) + api (Aip) = bhano’pi (.no_ip) ‘matahari juga’
  • Vokal e atau o pada akhir suatu kata jika di-saṁdhi-kan dengan vocal selain a pada awal kata berikutnya, maka vokal e atau o itu berubah menjadi ay dan av atau keduanya sering menjadi a saja. contoh :
  • deve (deve) + iti (—it) = devayiti (deviyit) = deva iti (dev —it) ‘kepada deva ini’
  • aśrame (Aè[me) + iti (—it) = aśramayiti (Aè[meiyit) = aśrama iti (Aè[m—it) ‘ke asrama ini’
  • Vokal e, o, ai atau au pada akhir suatu kata jika di-saṁdhi-kan dengan suatu vocal, masing-masing berubah menjadi ay, av, dan āy, āv bahkan keduanya sering hanya a saja. Contoh :
  • senāyāi (senyW) + atra (A]) = senāyātra (senaya]) ‘perajurit disini’
  • nai (nW) + akaḥ (Ak”) = nāyakaḥ (nayk”) ‘memimpin’
  • devau (devO) + atra (A]) = devāvatra (devav]) ‘dua deva disini’
  • aśvau (Aëe) + atra (A]) = aśvāvatra (Aëav]) ‘dua kuda disini’
  • Vokal ī, ū, dan e pada akhir suatu kata kerja atau kata benda dualis, demikian pula vokal akhir pada kata seru, jika disusul oleh vokal apapun juga tidak berubah. contoh :
  • girī (igrI) + iha (—h) = girī iha (igrI —h) ‘dua gunung disini’
  • sadhū (s∕U) + atra (A]) = sadhū atra (s∕U A]) ‘dua pendeta disini’
  • phale (fle) + atra (A]) = phale atra (fle A]) ‘dua buah disini’
  • he (he) + agni (AiGn) = he agni (he AiGn) ‘oh agni’
  • bhānū (.anU) + iti (—it) = bhānū iti (.anU —it) ‘demikian matahari’
  1. Sadhi Visarga (Visarga Sadhi )

Berikut ini ada beberapa aturan tentang Visarga Saṁdhi, antara sebagai berikut :

  • Apabila visarga didahului oleh vokal a dan diikuti oleh vokal a pula, maka visarga itu dihilangkan saja dan vokal a yang tadinya ditutup oleh visarga berubah menjadi o, dan vokal a yang engikutinya diganti dengan avagraha. contoh :
  • janaḥ (jn”) + adhunā (A∕una) = jano’dhunā (jno_∕una) ‘anak laki-laki sekarang
  • sutaḥ (sut”) + aśvam (Aëm_) = suto’śvam (suto_ëm_) ‘anak kusir kuda’
  • pāpaḥ (pap”) + aham (Am_) = papo’ham (papo_hm_) ‘penderitaan saya/hamba’
  • nṛpaḥ (nfp”) + atra (A]) = nṛpo’tra (nfpo_]) ‘raja disini’
  • Apabila visarga didahului oleh vokal a dan diikuti oleh vokal selain a, maka visarga dapat  contoh :
  • kapotaḥ (kpot”) + icchati (—C˜it) = kapota icchati (kpot —C˜it) ‘burung dara berkicau’
  • naraḥ (nr”) + odanam (Aodnm_) = nara odanam (nr Aodnm_)‘makanan anak/orang laki-laki’
  • nṛpaḥ (nfp”) + iva (—v) = nṛpa iva (nfp —v) ‘sebagai raja’
  • Apabila visarga didahului oleh vokal a dan diikuti oleh konsonan lembut, maka visarga dapat dihilangkan dan vokal a yang mendahuluinya dirubah menjadi o. contoh :
  • nṛpaḥ (nfp”) + jayati (jyit) = nṛpo jayati (nfpo jyit) ‘seorang raja menang’
  • tataḥ (tt”) + namati (nmit) = tato namati (tto nmit) ‘karena itu ia  menghormat’
  • dāsaḥ (das”) + gacchati (gC˜it) = dāso gacchati (dso gC˜it) ‘seorang pelayan menghormat’
  • Apabila visarga didahului oleh vokal ā dan diikuti konsonan lembut kecuali bunyi desis (s, ṣ, ś), maka visarga dapat dihilangkan. contoh :
  • nṛpāḥ (nfpa”) + jayanti (jyiNt) = nrpā jayanti (nfpa jyiNt) ‘raja-raja menang’
  • narāḥ (nra”) + dānāni (danain) = narā dānāni (nrA DANAIN) ‘anak laki-laki banyak hadiah’
  • gajāḥ (gja”) + dhāvanti (∕aviNt) = gajā dhāvanti (gja ∕viNt) ‘gajah-gajah berlari’
  • Apabila visarga didahului oleh selain vokal a dan ā, dan diikuti oleh konsonan lembut kecuali bunyi desis (s, ṣ, ś) dan r, visarga dapat diganti menjadi r. contoh :
  • agniḥ (AiGn”) + atra (A]) = agniratra (AiGnr]) ‘api disini’
  • muniḥ (muin”) + gacchati (gC˜it) = munir gacchati (muingRC˜it) ‘seorang pendeta pergi’
  • vayoḥ (vyo”) + balena (blen) = vayor balena (vyobRlen) ‘udara dengan kekuatan’
  • Apabila visarga didahului oleh vokal apapun juga dan disusul oleh konsonan r, maka visarga dapat dihilangkan dan vokal yang mendahuluinya dijadikan vokal dīrgha.contoh :
  • naraḥ (nr”) + rakṣati (r=it) = narā rakṣati (nrar=it) ‘anak laki-laki menjaga/melindungi’
  • bhanuḥ (.nu” + rohati (rohit) = bhanū + rohati (.nUrohit) ‘matahari terbit’
  • dhenuḥ (∕nu”) + Rāma (ram) = dhenū + Rāma (denUram) ‘sapi Rāma’
  • Apabila visarga diadahului oleh vocal dan disusul oleh konsonan k, kh, p, ph, s, ṣ, dan ś,maka visarga itu tidak berubah. contoh:
  • nṛpaḥ (nfp”) + khādati (%adit) = nṛpaḥ khādati (nfp”%dit) ‘seorang raja makan’
  • naraḥ (nr”) + śamsati (xMsit) = naraḥ śamsati (nr” xMsit) ‘anak laki-laki memuji’
  • itaḥ (—t”) + sarati (srit) = itaḥ sarati (—t” srit) ‘karena itu ia lari cepat’
  • Apabila visarga didahului oleh vokal dan disusul oleh konsonan c dan ch, maka visarga berubah menjadi ś. contoh:
  • ataḥ (At”) + calati (clit) = ataś calati (Atélit) ‘karena itu ia bergerak’
  • viṣṇuḥ (ivZ,u”) + ca (c) = viṣṇuśca (iZ,ué) ‘ dan viśṇu’
  • janakaḥ (jnk”) + chalena (˜len) = janakaś chalena (jnkx_ ˜len) ‘seorang ayah menipu’
  • Apabila visarga didahului oleh vokal dan disusul oleh konsonan ṭ atau ṭh, maka visarga berubah menjadi ṣ, dan apabila disusul oleh konsonan t atau th, maka visarga berubah menjadi s. contoh :
  • punaḥ (pun”) + ṭaṅkaḥ ($»”) = punaṣtaṅkaḥ (punZ$»”) ‘lagi mencangkul’
  • tataḥ (tt”) + tarami (trim) = tatastarami (ttStrim) ‘karena itu saya menyeberang’
  • Rāmaḥ (ram”) + tarati (trit) = Rāmastarami (ramStrim ) ‘Rāma menyeberang’
  • Apabila visarga didahului oleh vokal apapun juga kemudian diikuti konsonan desis (s, ṣ, dan ś), maka dapat tetap berupa visarga atau mengikuti konsonan desis yang mengikutinya. contoh:
  • manuḥ (mnu”) + svayaṁ (Svy’) = manuḥ svayaṁ/manussvayaṁ(mnu” Svy’)/ mnuus_ Svy’)‘manusia sendiri’
  • indraḥ (—Nd–”) + śūraḥ (xUr”) = indraḥ śūraḥ/indraśśūraḥ (—Nd–”xUr” / —Nd–x_ xUr”) ‘deva indra’
  • ṛsayaḥ (¨sy”) + ṣamayanti (zmyiNt) = ṛsayaḥṣamayanti / ṛsayaṣṣamayanti (¨sy” zmyiNt / ¨syz_ zmyiNt) ‘pendeta memuja/bernyanyi’
  • Apabila visarga yang berasal dari r jika didahului oleh vokal a atau ā di-saṁdhi-kan dengan suatu vokal atau konsonal lembut kecuali s, ṣ, ś dan r, maka visarga itu kembali menjadi r. contoh :
  • punaḥ (pun”) + atra (A]) = punaratra (punrR]) ‘lagi disini’
  • punaḥ (pun”) + jayati (jyit) = punar jayati (punjRjyit) ‘ia menang lagi’
  • Apabila visarga yang berasal dari r, jika didahului oleh vokal apapun juga dan diikuti oleh konsonan r, maka visarga tersebut dihilangkan dan vokal yang tadinya ditutup oleh visarga dijadikan vokal dīrgha.contoh :
  • punaḥ (pun”) + Rāma (ram) = punā Rāma (puna ram) ‘Rāma lagi’
  • giḥ (ig”) + Rāmasya (ramSy) = gī Rāmasya (gI ramSy) ‘nyanyian Rāma’
  1. Sadhi Konsonan (Vyañjana Sadhi)
  • Apabila konsonan s atau konsonan dari warga dental t, th, d, dh, dan n digabungkan dengan ś atau konsonan dari warga palatal c, ch, j, jh, dan ñ (ny), maka konsonan dental itu diganti dengankonsonan palatal berturut-turut.contoh :
  • arīn (ArIn_) + jayati (jyit) = arīñjayati (ArIHjyit) ‘mengalahkan musuh’
    • Apabila konsonan dari warga dental t, th, d, dh, dan n digabungkan (baik diikuti atau mengikuti) dengan ṣ atau konsonan dari warga lingual ṭ, ṭh, ḍ, ḍh, dan ṅ, maka konsonan dental itu harus diganti dengan konsonal lingual berturut-turut.contoh :
  • tat (tt_) + ṭika (i$k) = ṭaṭṭika (tiÈk) ‘keterangan’
  • ti (it) + stha (Zq) = tiṣṭha (itî) ‘berdiri’
    • Apabila suatu kata yang berakhir dengan konsonan dental, diikuti oleh konsonan l, maka konsonan dental itu diganti dengan konsonan l dan apabila berakhir dengan konsonan n (nasal), maka n (nasal) itu diganti dengan ṅ dan l.contoh :
  • asmin (AiSmn_) + loke (loke) = asmiṅlloke (AiSm;>Lloke) ‘di dunia ini’
    • Apabila huruf sengau n, ṇ, ṅ diakhir suatu kata dan didahului oleh vokal (svara) pendek serta diikuti oleh vocal, maka huruf sengau harus didua kalikan.contoh :
  • bhagavān (.gvan_) + ambarāt (AMbrt_) = bhagavānnambarāt (.gvaÞM.rt_) ‘orang suci dari langit’
    • Apabila suatu kata berakhiran huruf mati, kecuali huruf sengau, maka huruf mati itu harus diganti dengan huruf sengau dari keluarganya sendiri. contoh
  • tat (tt_) + matra (m]) = tanmatra (tNm]) ‘atom/tidak berukuran’
    • Konsonan c atau j jika diiringi oleh konsonan keras harus dirubah menjadi k, kecuali g jika diringi oleh konsonan lembut, nasal atau semi vok contoh :
  • muc (muc_) + ta (t) = mukta (muµ) ‘meninggal’
    • Apabila suatu kata diakhiri oleh konsonan kecuali nasal diikuti oleh konsonan pertama dari muka, maka konsonan yang diikuti itu harus diganti dengan konsonan pertama dari warganya yaitu konsonan keras dan tidak berdesah.

contoh :

  • dṛṣad (dfzd_) + patati (ptit) = dṛṣatpatati (dfzTpatit) ‘menjatuhkan pandangan’
    • Apabila suatu kata diakhiri oleh konsonan kecuali nasal, diikuti oleh konsonan lembut yaitu konsonan ketiga atau keempat jika diikuti oleh vokal, maka konsonan itu harus diganti dengan konsonan ketiga dari warganya.

contoh :

  • ut (£t_) + bhavati (.vit) = udbhavati (£Ùvit) ‘menjelma’
  • tat (tt_) + iti (—it) = taditi (tidit) ‘inilah itu/demikianlah’
    • Apabila konsonan h didahului oleh salah satu dari keempat konsonan dari muka, maka konsonan tadi harus diganti dengan konsonan keempat dari warganya.

contoh :

  • nagarāt (ngrat_) + hariḥ (hir”) = nagarād hariḥ / nagarāddhariḥ (ngrad hir” / ngraØri”)‘dari kota Hari’
    • Jika suatu kata diakhiri oleh salah satu konsonan dan diikuti oleh konsonan c, konsonan c itu harus diganti dengan ch, jika konsonan ch itu sendiri diikuti oleh vokal, semi vocal atau

contoh :

  • avadat (Avdt_) + cathaḥ (cq”) = avadacchathaḥ (AvdC^t^”) ‘penjahat telah berkata’
    • Konsonan ch jika mengiringi suatu vokal pendek, maka dapat dirubah menjadi cch. contoh :
  • a (A) + chidyanta (i^ÛNt) = acchidyanta (AiC^ÛNt) ‘dipotong-potong’
  • lakṣmi (li+m) + chaya (^y) = lakṣmicchaya (li+miC^y) ‘bayangan lakṣmi’
    • Jika nasal n diakhir suatu kata, diikuti oleh huruf desis atau h, maka nasal n diganti dengan anusvara. contoh :
  • vidvan (iv×n_) + s (s_) + au (AO) = vidvamsau (iv×’sO) ‘dua orang cendekiawan’
    • Jika nasal n diakhir suatu kata, diikuti oleh konsonan c, ch, ṭ, ṭh, t, th, maka nasal n.contoh :
  • bidalān (ibdlan_) + tadayati (tdyit) = bidalāṁtadayati (ibdla’tdyit) ‘ia memukul kucing-kucing’
    • Nasal n dirubah menjadi ṇ apabila langsung diikuti oleh vokal atau salah satu diantara konsonan n, m, v, y serta dalam kata ybs. didahului oleh r, ṛ, ṝ, s, baik langsung maupun terpisah oleh vokal, konsonan guttural k, kh, g, gh, konsonan labial p, ph, b, bh, m h, atau anusvara. Lihatlah contoh di bawah ini.

contoh :

  • varna (vnR) = varṇa (v,R) ‘varna’
  • kṛṣna (kfZn) = kṛṣṇa (kêZ,) ‘hitam’
  • nagarena (ngren) = nagareṇa (ngre,) ‘dengan suatu daerah’
  • kṣetrāni (=e]ain) = kṣetrāṇi (=e]i,) ‘banyak tempat’
  • puṣpani (puZpin) = puṣpaṇi (puZpi,) ‘bunga-bunga’
  • gṛhani (gêhin) = gṛhaṇi (gêhi,) ‘banyak rumah’

Tetapi perubahan ini tidak terjadi apabila nasal n itu mengakhiri suatu kata. contoh : naran (nrn_)

  • Konsonan m yang menjadi akhir suatu kata jika diikuti oleh konsonan, maka huruf m itu bisa berubah menjadi ṅ/ṁ, apalagi jika huruf m itu diikuti oleh huruf desis dan h. contoh :
  • evam (Evm_) + vadāmi (vdim) = evaṁvadāmi (Ev’vadim) ‘demikian saya berkata’
  • khatam (%tm_) + namati (nmit) = khataṁnamati (%t’nmit)‘ bagaimana ia menghormat’
  • sam (sm_) +gacchati (gC^it) = saṁgacchati (s’gC^it)‘ia pergi bersama’
    • Konsonan r pada akhir suatu kata jika diikuti oleh suatu kata yang dimulai dengan konsonan r, maka satu diantaranya dapat dihilangkan dan vokal yang mendahuluinya (kecuali r), jika pendek harus dipanjangkan. contoh : harir (hirr_) + rakṣati (r=it) = harīrakṣati (hrIr=it)
    • Apabila konsonan s akhir suatu kata, maka s dirubah menjadi visarga ḥ.Contoh :
  • vadamas (vdms_) à vadamaḥ (vdm”) ’kami berkata’
  • gajas (gjs_) à gajaḥ (gj”) ’seekor gajah’
  • svetas (Svets_) à svetaḥ (Svet”)‘putih’
    • Apabila suatu kata diakhiri oleh dua konsonan atau lebih, maka hanya konsonan pertama dibiakan sedangkan konsonan kedua dihilangkan.contoh
  • maruts (mäTs_)à marut (mät_) ‘angin’

Catatan : Tidak semua huruf dalam bahasa sanskerta dapat menjadi akhir atau mengakhiri suatu kata atau kalimat. Huruf yang dapat digunakan adalah :

  1. Semua vokal termasuk visarga (ḥ) kecuali ṛ(¨) dan ḷ (ª)
  2. Konsonan tajam yang alpapraṇa (tanpa desah), kecuali c (c_), k (k_),t ($) dan p (p)
  3. Semua nasal, kecuali ny (Å_),

Faktor Penghambat Pembelajaran Aksara Devanagari

Ada beberapa faktor yang menghambat pembelajaran Aksara Devanagari yang diajarkan di sekolah maupun Pasraman. Adapun faktor-faktor itu adalah sebagai berikut. Kurangnya tenaga pengajar yang bisa membaca dan menulis Aksara Devanagari menyebabkan pelajaran Aksara Devanagari tidak pernah diajarkan.Hal ini disebabkan oleh tidak adanya penyuluhan tenaga pengajar Aksara Devanagari yang memang sangat diperlukan dalam pembelajaran Veda. Penyuluhan tenaga pengajar Aksara Devanagari dipandang sangat penting, sebagai bekal tenaga pendidik untuk menyampaikan pembelajaran sesuai dengan tingkatan kelas yang diempunya. Tenaga pengajar yang berkompeten diharapkan mampu memberikan tambahan pengetahuan Aksara Devanagari kepada peserta didik. Kebanyakan para ahli Aksara Devanagari hanyalah orang tua-tua saja. Pemuda Hindu tidak ada minat untuk mempelajari Aksara Devanagari sebagai penerus generasi Hindu selanjutnya. Mereka lebih minat pada pendidikan umum yang lebih menguntungkan pribadi. Oleh karna itu tenaga pendidik yang berkompeten dalam pelajaran Aksara Devanagari terasa semakin berkurang.

Adanya kurang minat anak-anak dalam belajar membaca dan menulis Aksara Devanagari merupakan salah satu penghambat. Tugas kita sebagai pendidik untuk menumbuhkan semangat anak dalam belajar Aksara Devanagari. Mulai dari sekarang kita tumbuhkan minat anak dalam belajar Aksara Devanagari. Untuk menumbuhkan rasa minat anak terhadap Aksara Devanagari kita perkenalkan dahulu dengan aksara dasar dari yang paling mudah kemudian ditingkatkan dengan menggunakan metode belajar yang menyenangkan bagi anak.

Pelajaran membaca dan menulis Aksara Devanagari tidak masuk dalam kurikulum pendidikan agama Hindu di sekolah. Pelajaran Aksara Devanagari dapat dimasukan kedalam kurikulum pendidikan Aggama Hindu. Nama mata pelajaran Aksara Devanagari di sekolah adalah Baca Tulis Veda (BTV) yang menjadi keharusan bagi siswa-siswi untuk mempelajari Aksara Devanagari. Dari kesemua faktor penghambat tersebut di atas penulis mencoba mengembangkan Aksara Devanagari di tingkat sekolah dasar dan pasraman dengan cara mandiri. Setelah dilakukan, ternyata mendapat sambutan positif dari orang tua murid yang memang buta akan Aksara Devanagari. Dengan adanya dukungan dari orang tua murid maka penulis berani dan bersemangat mengajarkan Aksara Devanagari pada siswa-siswi Sekolah Dasar dan Pasraman yang ada di lingkungan SD Santi Adnyana dan Pasraman Santi Adnyana.

 PENUTUP

Kesimpulan

Pembelajaran AksaraDevanagari memerlukan ketekunan dan ketelitian yang tinggi. Dalam pembelajaran Aksara Devanagari banyak peraturan dan tata cara penulisan yang cepat membuat bosan bagi yang mempelajarinya. Untuk menghilangkan kebosanan dalam mempelajari Aksara Devanagari kita bisa menggunakan bermaga macam metode dalam belajar yang mengubah suasana bosan menjadi menyenangkan. Pelajaran dasar Aksara Devanagari hanya seputar Aksara Vokal (svara), Aksara konsonan (Vyanjana), sandangan, pasanngan, dan hukum persamdian.

Foktor yang menjadi penghambat dalam pembelajaran Aksara Devanagari tidaklah menjadi penghalang jika kita belajar dengan sungguh-sungguh. Banyak cara belajar Aksara Devanagari jika kita tidak ada guru atai pembimbing yang bisa mengajarkan kita akan Aksara Devanagari. Belajar Aksara Devanagari dapat dilakukan dengan cara membaca buku kitab Suci Hindu yang sekarang sudah mulai ditulis dengan Aksara Devanagari yang sudah ada salinan dalam huruf latin. Dari situlah kita dapat membandingkan perbedaan bentuk setiap Aksara yang tercantum dalam Aksara Devanagari. Latihan dalam membaca dan menulis secara teratur dapat mempertajam ingatan kita akan bentuk dan aturan dalam pembelajaran Aksara Devanagari. Semakin sering kita mengadakan latihan kita dapat mengingat dan mempertajam ingatan kita dalam penulisan bentuk Aksara serta bunyi Aksara yang kita lihat.

Saran

Materi pembelajaran membaca dan menulis Aksara Devanagari hendaknya mulai diajarkan pada anak-anak usia dini. Mulai dari sekolah dasar yang memang rasa ingin tahunya yang tinggi. Tenaga pengajar pendidikan agama Hindu mulai memberikan secara teratur dalam penulisan doa-doa, mantra trisandya, dan mantra yang lain untuk membiasakan anak dalam menulis Aksara Devanagari.

Tidak ada kata menyerah dalam belajar Aksara Devanagari. Jika tidak ada pembimbing dalam belajar Aksara Devanagari kita bisa belajar melalui kitab Suci Agama Hindu yang sekarang sudah ditulis dalam Aksara Dewanagari dengan tulisan latin dibawahnya. Dalam belajark Aksara Devanagari dilakukan dengan cara kontinyu dan secara sistematis agar tidak ada kesalahan dalam belajar membaca dan menulis Aksara Devanagari.

 DAFTAR PUSTAKA

 Ardiansyah, Andre. —-. EYD Ejaan Yang Disempurnakan. Surabaya, Pustaka Agung Harapan.

Halim, Andreas. —-. Kamus lengkap 700 Milyar Inggris Indonesia Indonesia Inggris. Surabaya, Fajar Mulya

Hasbullah. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta, PT Rajagrafindo Persada.

Nurkancana, I Wayan. 2000. Menguak Tabir Perkembangan Hindu. Jakarta, Balai Pustaka.

Puja, G. M.A. dan Tjokorda Rai Sudharta, M.A. 2010. Manawa Dharmasastra (Manu Dharmasastra) atau Veda Smrti Compendium Hukum Hindu. Surabaya, Paramita.

Puja, G. M.A. SH. 1999. Bhagawad Gita (Pancama Veda). Surabaya, Paramita.

Saraswati, Sri Chandrasekharendra. 2009. Peta Jalan Veda. Media Hindu.

Sudharta, Tjok. Rai. 2010. Mutiara-Mutiara Kebijaksanaan Veda. Denpasar, Widya Dharma.

Sudharta, Prof. Dr. Tjok. M.A. 2003. Slokantara Untaian Ajaran Etika. Surabaya, Paramita.

Surada, Drs. Imade, MA. 2004. Pelajaran Dasar Bahasa Sanskerta. Surabaya, Paramita

Syuaeb, Drs. Hadi. —-. Kamus Lemgkap Bahasa Indonesia. Solo, Sandang Ilmu.

Titib, Drs. I Made. 2003. Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya, Paramita

Tim Penyusun. 2010. Sejarah Perkembangan Agama Hindu. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementrian Agama Republik Indonesia.

Tim Penyusun. 1995. Bahasa Sanskerta. Direktorat Bimbingan Masyarakat Hindu dan Bhuda.

Tim Penyusun. 2010. Panduan Jambore Pasraman Tingkat Nasional. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu Kementrian Agama RI.

Tim Penyusun. 2006. Pedoman Pengelolaan Pasraman. Surabaya, Paramita.

Udasinah, Svamigangesvarananda. 2000. Catur Veda. Surabaya, Paramita

Vimalananda, Swami. 1997. Mahanarayana Upanisad. Surabaya, Sanatana Dharmasrama.

Winara, WM. 1986. Dasar-dasar Pelajaran SanskertaI. Surabaya, Paramita

Soemanto, Drs. Wasty, M.Pd. 2009. Pedoman Teknik Penulisan Skripsi (Karya Ilmiah). Jakarta, Bumi Aksara

D.Triswanto Sugeng. 2010. Trik Menulis Skripsi & Menghadapi Presentasi Bebas Stres. Yokyakarta,Tugu

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *