PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DEBAT AKTIF UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR AGAMA HINDU (PTK pada Siswa Pasraman Saraswati Way Halim Bandar Lampung)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DEBAT AKTIF UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR AGAMA HINDU

(PTK pada Siswa Pasraman Saraswati Way Halim Bandar Lampung)

Oleh:

Suyono

suyono_gunawan_sindhunata@yahoo.com

085380519528

STAH Lampung

Abstrak: Debat aktif mengajak siswa mengekplorasi pengetahuannya, mempertahankan pendapat yang dimiliki masing–masing kelompok, baik itu kelompok pro ataupun kontra, dari pertanyaan kontroversi yang diberikan oleh guru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa selama menerapkan pembelajaran debat aktif. Penelitian ini, dilakukan di kelas XI Pasraman Saraswati Way Halim Bandar Lampung, pada Semester Genap tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian ini memnggunakan desain penelitian tindakan kelas untuk siswa 20 orang. Tindakan kelas  meliputi tiga siklus yaitu siklus I, siklus II dan siklus III. Tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh (1) Persentase rata-rata aktivitas siswa pada siklus I adalah 76 % terkategori aktif, siklus II sebesar 89 % terkategori aktif dan siklus III sebesar 97% terkategori aktif. (2) Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I adalah sebesar 71 tergolong baik, pada siklus II nilai rata-rata sebesar 77 tergolong baik dan pada siklus III adalah 83 tergolong sangat baik. (3) Pengelolaan pembelajaran guru di kelas pada siklus I yaitu 70 % dengan predikat baik, siklus II sebesar 80 % dengan predikat baik sekali dan siklus III sebesar 88 % dengan predikat baik sekali. Terjadi peningkatan aktivitas, hasil belajar siswa dan pengelolaan pengajaran guru setiap siklus belajar.  Dengan demikian maka secara umum dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran debat aktif dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa serta meningkatkan pengelolaan pembelajaran guru dalam kelas.

Kata Kunci: Debat Aktif, Aktivitas dan Hasil Belajar.

PENDAHULUAN

Proses belajar mengajar merupakan penentu keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan. Agar tujuan pendidikan itu dapat tercapai dengan maksimal, maka seluruh komponen yang ada dalam proses pembelajaran harus berjalan dengan baik. Berdasarkan analisis hasil belajar siswa kelas XI untuk mata pelajaran Agama Hindu di Pasraman Saraswati Way Halim Bandar Lampung pada Semester Genap TP. 2010/2011, dari 20 siswa yang belajar Agama Hindu, yang memenuhi standar ketuntasan minimal 70 keatas baru mencapai 50 %.

Fenomena tersebut menunjukan bahwa masih terlalu banyak siswa yang belum memahami materi. Hal ini disebabkan proses pembelajaran yang masih  menggunakan metode klasikal, yaitu metode mengajar yang waktunya lebih banyak didominasi oleh guru untuk menjelaskan materi secara teoritis. Diawali dengan menerangkan materi yang ada dalam buku pegangan guru dan diakhiri dengan memberikan tugas berstruktur yang diambil dari soal – soal yang sudah ada dalam buku. Metode klasikal dipilih karena dianggap paling mudah dilakukan oleh guru dan proses pembelajarannya dapat dilakukan lebih efektif.

Setelah melalui analisis yang cukup cermat, ternyata berhasil mengungkap bahwa terdapat kekurangan dalam penerapan metode klasikal yang selama ini digunakan dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang menggunakan metode klasikal ternyata tidak mampu menggali filosofi secara baik agar materi pelajaran dapat lama diingat oleh siswa. Fenomena ini terbukti dari setiap selesai mengikuti proses pembelajaran siswa kadang mengatakan lupa, setelah diadakan tes tertulis hasil belajarnya sangat rendah. Keadaan semacam ini menyebabkan siswa pasrah untuk menerima kenyataan. Mereka tidak menempatkan mata pelajaran Agama Hindu sebagai mata pelajaran penting yang dapat membentuk keperibadian mereka. Cara mengajar klasikal yang sering dilakukan oleh guru menyebabkan siswa jenuh dan malas belajar. Mereka melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kegiatan inti pembelajaran, seperti mengganggu teman saat belajar, memainkan ponsel, serta mengerjakan tugas lain di luar materi pelajaran. Walupun masih ada beberapa siswa yang mengikuti proses pelajaran, tetapi mereka pasif, mereka hanya mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh guru.

Rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Kenyataan ini terlihat dari nilai ulangan kelas XI di Pasraman Saraswati terkategori rendah yaitu 63,50.  Agar aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat, maka siswa perlu dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran. Pengembangan agar siswa aktif dalam belajar maka dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran dan metode pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan model belajar debat aktif.

Model belajar debat aktif akan mengajak siswa untuk saling bekerja sama mempertahankan pendapat yang dimiliki setiap kelompok, baik itu kelompok pro ataupun kontra. Debat aktif mengarahkan siswa untuk berpikir kreatif yang kontruktif. Berpikir kontruktif berarti mengajak siswa untuk menggali pengetahuan dan pengalamannya. Dengan debat aktif siswa akan berdiskusi dan memprsentasikan pendapat dan mencatat hasil diskusi. Dengan metode debat aktif akan dapat dilihat dari kerucut pengalamannya sehingga mereka akan mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajarnya.

Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: a) Bagaimana aktivitas belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran debat aktif pada siswa kelas XI Pasraman Saraswati? b) Bagaimana hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran debat aktif pada siswa kelas XI Pasraman Saraswati? Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI Pasraman Saraswati melalui model pembelajaran debat aktif.

METODE PENELITIAN

 Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Pasraman Saraswati Way Halim Bandar Lampung kelas XI Semester Genap TP. 2010/2011 dengan jumlah siswa 20 orang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – April 2011. Prosedur penelitian ini disesuaikan dengan urutan tindakan yang ditempuh yang direncanakan  terdiri dari 3 siklus. Data dari hasil observasi guru mitra, digunakan untuk merefleksi diri, apakah kegiatan pembelajaran selama menerapkan pembelajaran debat aktif dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan di Pasraman Saraswati Way Halim Bandar Lampung. Proses pengambilan data dilaksanakan selama 3 jam pelajaran (3 x 50 menit) setiap pekannya, yaitu pada hari Minggu. Pelaksanaan penelitian dimulai dari tanggal 20 Februari 2011. Sedangkan proses pengambilan data dimulai tanggal 27 Februari 2011 s.d. 24 April 2011.

Pengambilan data dilakukan dalam 3 (tiga) siklus belajar. Data yang diambil pada setiap siklus terdiri dari data pengelolaan pembelajaran guru, aktivitas off  task dan on task siswa dan penilaian hasil belajar siswa. Prosedur  pengambilan data adalah sebagai berikut : 1) Data guru, diambil dengan meng-gunakan lembar observasi guru yang dilakukan oleh teman sejawat, pada saat melakukan proses pembelajaran di kelas dengan menerapkan model belajar debat aktif, 2) Data aktivitas siswa diambil dengan menggunakan daftar catatan observasi, pada saat siswa melakukan kegiatan pembelajaran debat aktif. Data aktivitas kegiatan siswa yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran (on task) dapat diketahui setelah data aktivitas off task siswa diketahui dan 3) Data hasil belajar siswa, diambil dengan memberikan tes tertulis sebanyak siklus. Bila siklus sampai 3 kali, maka tes hasil belajar juga 3 kali.

Analisis aktivitas siswa diperoleh dari hasil perekaman pada lembar observasi aktivitas siswa yaitu berupa seluruh kegiatan dan aktualisasi yang dilakukan oleh siswa selama pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan hasil pencatatan data aktivitas siswa pada setiap siklus, jika setelah dianalisis ternyata semakin sedikit jumlah siswa yang melakukan aktivitas menyimpang saat mengikuti pembelajaran disebut off task. Apabila semakin banyak jumlah siswa yang melakukan aktivitas yang sesuai dengan pembelajaran yang disebut on task, maka aktivitas siswa dikatakan semakin meningkat. Aktivitas siswa yang tidak relevan dan yang relevan dengan kegiatan pembelajaran diambil setiap siklus menggunakan lembar observasi terhadap aktivitas siswa. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan rumus on task dan off task. Untuk mengetahui tingkat keaktivan siswa, kategori aktivitas siswa dalam pembelajaran < 59,4 kategori kurang aktif, > 59,4 – < 75,6 kategori cukup aktif, dan > 75,6 kategori aktif.

Data pengelolaan pembelajaran oleh guru diperoleh dari lembar observasi yang diamati oleh guru mitra terhadap guru peneliti dalam menerapkan model pembelajaran debat aktif. Aspek yang diamati meliputi:  1) keterampilan membuka pelajaran, 2) mengorganisasi kegiatan inti pembelajaran, serta 3) menutup pembelajaran. Data yang diperoleh dianalisis dengan rumus persentase pengelolaan pembelajaran guru. Aspek yang diamati dalam format pengelolaan pembelajaran guru meliputi  3 kegiatan yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Kegiatan pendahuluan diantaranya menginformasikan SK, KD, dan tujuan pembelajaran, memunculkan rasa ingin tahu siswa, melaksanakan persepsi, melaksanakan motivasi. Kegiatan inti diantaranya adalah membimbing siswa membagi kelompok debat, memberikan pertanyaan kontroversi, membimbing siswa untuk memperdebatkan pertanyaan kontroversi, meminta perkawilan kelompok untuk berdiri paling depan untuk memberikan argumen, mengatur jalannya diskusi berupa debat pendapat, membimbing siswa agar semua terlibat dalam debat tersebut untuk memberikan sanggahan, melakukan pengamatan kepada siswa, memberikan pembenaran hasil diskusi debat, membimbing siswa menyimpulkan hasil diskusi. Kegiatan akhir diantaranya adalah menegaskan kembali konsep yang harus dikuasai siswa, memberikan tugas rumah. Penilaian dilakukan dengan skala likert yaitu 1 = Kurang Sekali, 2 = Kurang, 3 = Cukup, 4 = Baik, 5 = Baik Sekali.  Kriteria Predikat Pengelolaan Pembelajaran Guru 80 – 100 predikat A = baik sekali, 66 – 79 predikat B = baik, 55 – 65 predikat C = cukup, 40 – 55 predikat D = kurang, 30 – 39 predikat E = gagal.

Sebagai indikator hasil belajar siswa dari siklus satu sampai siklus ketiga, data dianalisis dengan menghitung jumlah siswa yang belum mencapai target standar nilai sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70.  Apabila banyak siswa yang mencapai nilai minimal 70 (tujuh puluh),  semakin sedikit jumlah siswa memperoleh nilai kurang dari 70 pada setiap siklusnya. maka hasil belajar siswa makin meningkat.  Setelah  semua siswa mendapat nilai di atas 70 maka penelitian dihentikan. Data yang diperoleh siswa dikumpulkan kemudian dianalisis untuk mencari nilai rata-rata. Kriteria kualifikasi nilai, kriteria 0 – < 55 kategori kurang, > 55 – < 66 kategori cukup, > 66 – < 80 kategori baik, > 80 – < 100 kategori sangat baik.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan pembelajaran, hasil observasi aktivitas siswa, lembar pengelolaan pembelajaran guru serta hasil belajar siswa selama 3 siklus.

Siklus I

Pembelajaran Agama Hindu kelas XI di Pasraman Saraswati dilaksanakan 2 x pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 27 Februari 2011. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 6 Maret 2011. Pertemuan pertama dalam alokasi waktu 3 x 50 menit, dihadiri oleh 20 orang siswa yang terdiri dari 10 siswa perempuan dan 10 siswa laki – laki. Kegiatan siklus pertama ini diawali dengan pembagian kelompok belajar yaitu debat aktif. Siswa yang hadir dibagi menjadi 2 kelompok pro dan kontra. Kelompok pro dibagi menjadi dua sub kelompok, tujuannya agar setiap kelompok pro dan kontra saling berhadap hadapan, begitu juga dengan kelompok kontra. Guru peneliti memulai pembelajaran dengan menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa untuk belajar. Setelah itu siswa duduk dalam kelompok masing – masing.

Materi yang dibahas tentang hukum Karma Phala dan Punarbhawa yang merupakan bagian dari aspek Panca Sraddhā. Guru memberikan suatu pertanyaan yang mengandung kontroversi, kemudian guru membimbing siswa untuk berargumen terhadap pertanyaan tersebut. Dari kelompok pro memberikan pendapat yang berisi alasan – alasan untuk mendukung masalah dalam pertanyaan kontroversi, sedangkan dari kelompok kontra memberikan alasan – alasan yang sifatnya menentang terhadap permasalahan dalam pertanyaan tersebut. Pada siklus I diskusi berjalan dengan baik, akan tetapi ada beberapa kendala yang dihadapi oleh kelompok kontra. Hal ini disebabkan  mereka belum terbiasa dalam berdebat, sehingga masih banyak siswa yang tidak berani mengeluarkan pendapatnya. Oleh karena itu, guru peneliti memberikan motivasi bagi siswa yang berani berargumentasi dengan membri applause.

Dengan memberikan applause kepada peserta yang berani berargumen diharapkan dapat memberi motivasi temannya yang lain untuk mulai aktif berdiskusi secara debat. Ketika siswa asik berdebat guru peneliti melakukan pengamatan terhadap siswa yang melakukan kegiatan yang tidak relevan (off task). Setelah berdebat pendapat, guru peneliti memberikan pembenaran, atau menengahi permasalahan yang ada. Guru memberikan pembenaran, arahan dan penyimpulan terhadap pertanyaan yang kontroversi tersebut. Pelaksanaan evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa pada siklus I dilaksanakan pada pertemuan kedua yaitu tanggal 6 Maret 2011. Materi evaluasi yaitu hukum Karma Phala dan Punarbhawa dari aspek Panca Sraddha.

 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I

Pelaksanaan siklus I menghasilkan data aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model belajar debat aktif. Data aktivitas belajar siswa diperoleh dengan mengamati aktivitas siswa per 10 menit. Data hasil ketercapaian aktivitas siswa dalam pembelajaran siklus I terlihat bahwa siswa melakukan kegiatan yang relevan dengan kegiatan pembelajaran (on task) ketercapaian 76%, sedangkan siswa melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran (off task) mecapai 24%.

Gambaran model pembelajaran debat aktif pada siklus I lebih dari 70 % siswa dalam kelas aktif terlibat mengikuti proses pembelajaran. Pada siklus I siswa yang berkategori aktif sebesar 65% yaitu jumlah siswa 13 orang, kategori cukup aktif 30% jumlah siswa 6 orang, kategori kurang aktif 5% jumlah siswa 1 orang.

 Hasil Observasi Pengelolaan Pembelajaran Guru Peneliti Siklus I

Selama pembelajaran berlangsung, kinerja guru peneliti diamati dan dinilai oleh guru mitra. Kinerja yang diamati selama proses pembelajaran debat aktif adalah keterampilan membuka pelajaran yang meliputi menginformasikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD), bertanya, mengorganisasi kelompok siswa, serta keterampilan melaksanakan pembelajaran. Data observasi aktivitas guru peneliti 70% dengan predikat B kategori baik.

 Refleksi Siklus I

Berdasarkan hasil tindakan siklus I dan pengamatan yang dilakukan oleh guru mitra diperoleh kesimpulan bahwa guru peneliti telah berupaya melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. Guru mitra memberikan keterangan bahwa kekurangan kinerja guru peneliti pada siklus I adalah meliputi :1) Guru kurang jelas dalam men-yampaikan tujuan dan indikator yang akan dicapai dalam pem-belajaran, 2) Guru kurang memberikan apersepsi, 3) Kurang mengeksplorasi penge -tahuan awal siswa, 4) Kurang memberikan motivasi kepada siswa untuk berani menge-mukakan pendapatnya, 5) Kurang mengarahkan siswa dalam kelompok debat sehingga masih banyak siswa yang belum paham tentang cara belajar debat aktif, 6) Kurang memberikan kesempatan bertanya pada siswa sebelum proses debat, inti maupun menutup pelajaran, 7) Kurang memberikan penegasan terhadap pembenaran hasil debat dan kesimpulan, dan 8) Memberikan tindak lanjut belum jelas.

Selain faktor dari guru peneliti, pengelolaan pembelajaran masih kurang baik dikarenakan dari siswa itu sendiri  yaitu: 1)           Belum terbiasanya siswa dalam belajar model debat aktif sehingga kerjasama dalam mempertahankan kelompoknya masih kurang, 2) Komunikasi antar siswa masih kurang baik, dan 3) Siswa kurang memperhatikan penjelasan guru.

Pada siklus selanjutnya hendaknya guru lebih memperhatikan kekurangan yang ada pada siklus sebelumnya.  Kekurangan ini dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk proses pembelajaran atau siklus selanjutnya sehingga proses dan hasil pembelajaran selanjutnya akan mengalami peningkatan.

 Hasil Belajar Siswa Siklus I

Hasil belajar siswa diperoleh dengan melakukan tes tertulis yang dilakukan pada pertemuan kedua yaitu tanggal 6 Maret 2011, dalam penilaian ini yang dinilai adalah ranah kognitif.  Nilai rata – rata dan kategori hasil belajar siswa pada siklus I,  kategori baik > 66 – < 80 jumlah siswa 16 orang, kategori cukup > 55 – < 66 jumlah siswa 4 orang, dengan rata-rata nilai 71. Siswa yang mendapat standar nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh Pasraman Saraswati sebanyak 13 siswa. Siswa yang belum memenuhi nilai standar KKM ada 7 orang.  Namun,  secara individu siswa yang mendapat nilai ³ 70 sejumlah 13 orang dan mendapat nilai < 70 sebanyak 7 orang. Dilihat dari segi ketuntasan belajar, hanya 65 % siswa yang memenuhi target ketuntasan, belum mencapai 70 %. Dari data ini  dapat dinyatakan bahwa pada siklus I hasil belajar siswa sudah baik akan tetapi belum sepenuhnya mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan. Dengan harapan pada siklus berikutnya hasil belajarnya dapat lebih meningkat melalui penyempurnaan yang lebih baik dalam menerapkan model pembelajaran debat aktif.                                                                              

Rekomendasi untuk Siklus II

Berdasarkan refleksi siklus I, direkomendasikan perbaikan tindakan untuk siklus II sebagai berikut : 1) Menyampaikan tujuan dan indikator yang jelas kepada siswa, 2) Memberikan apersepsi yang lebih baik, 3) Lebih memotivasi siswa agar bersemangat dalam diskusi debat aktif, 4) Lebih mengarahkan siswa saat diskusi debat berlangsung, 5) Membangun komunikasi yang lebih baik dengan siswa, 6) Memberikan apresiasi yang baik kepada siswa yang berdiskusi secara debat dengan baik dan aktif, dan 7) Penggunaan waktu yang lebih efektif dan efisien.

Siklus II

Pada siklus II pembelajaran Agama Hindu kelas XI di Pasraman Saraswati dilaksanakan 2 kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 13 Maret 2011. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 20 Maret 2011. Pertemuan pertama dalam alokasi waktu 3 x 50 menit, dihadiri oleh 20 orang siswa yang terdiri dari 10 siswa perempuan dan 10 siswa laki – laki. Kegiatan siklus kedua ini diawali dengan pembagian kelompok debat. Siswa yang hadir dibagi menjadi 2 kelompok pro dan kontra. Kelompok pro dibagi menjadi dua sub kelompok, begitu juga dengan kelompok kontra. Guru peneliti memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa untuk belajar. Selanjutnya siswa dipersilahkan duduk pada kelompoknya masing – masing.

Guru memberikan satu pertanyaan yang mengandung kontroversi, guru membimbing siswa untuk berargumen terhadap pertanyaan yang diberikan. Pokok materi yang dibahas adalah Yajna.  Dari kelompok pro memberikan pendapat yang berisi alasan – alasan untuk mendukung masalah tersebut. Dari kelompok kontra memberikan alasan – alasan yang sifatnya menentang atau tidak setuju terhadap permasalahan dalam pertanyaan tersebut.

Pada siklus II diskusi berjalan dengan baik,  siswa mulai terbiasa menerapkan model pembelajaran debat aktif. Kegiatan siswa yang tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran mulai berkurang. Mereka berdiskusi secara debat dengan penuh semangat. Ketika siswa asik berdebat,  guru peneliti melakukan pengamatan terhadap siswa yang off task. Setelah berdebat pendapat, guru peneliti memberikan pembenaran atau menengahi permasalahan yang ada. Guru memberikan pembenaran, arahan dan penyimpulan terhadap pertanyaan yang kontroversi tersebut. Pelaksanaan evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa pada siklus II dilaksanakan pada pertemuan minggu kedua yaitu tanggal 20 Maret 2011. Materi evaluasi yaitu berkaitan dengan Yajna.

 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus II

Pelaksanaan pembelajaran siklus II menghasilkan data aktivitas siswa yang proses pembelajaran dengan menggunakan model belajar debat aktif. Data aktivitas belajar siswa diperoleh dengan mengamati aktivitas siswa per 10 menit. Data hasil ketercapaian aktivitas siswa dalam pembelajaran siklus II mengalami peningkatan. Ketercapaian aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model debat aktif, yaitu 89 % siswa yang melakukan kegiatan relevan dengan pembelajaran (on task). Sisanya, sebesar 11 % siswa melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran (off task). Diperoleh data bahwa siswa yang memiliki aktivitas dengan kategori aktif sebesar 100%. Data ini menunjukkan bahwa pada siklus II semua siswa aktif terlibat dalam pembelajaran.

Hasil Observasi Pengelolaan Pembelajaran Guru Siklus II

Selama pembelajaran berlangsung, kinerja guru peneliti diamati dan dinilai oleh guru mitra. Kinerja yang diamati selama proses pembelajaran debat aktif meliputi: keterampilan membuka pelajaran yaitu menginformasikan standar kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), bertanya, mengorganisasi kelompok siswa, serta keterampilan melaksanakan pembelajaran. Hasil pengaatan menunjukkan bahwa Aktivitas guru mencapai 80%. Hal ini menunjukan pengelolaan pembelajaran guru sudah lebih baik dari siklus sebelumnya.

 Refleksi Siklus II

Berdasarkan hasil tindakan kelas siklus II dan pengamatan yang dilakukan oleh guru mitra diperoleh kesimpulan bahwa guru peneliti telah melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dibandingkan dengan proses pembelajaran pada   siklus I. Namun demikian, masih terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki. Berdasarkan keterangan guru mitra kekurangan kekurangan kinerja guru peneliti pada siklus II adalah : 1) Guru belum sepenuhnya mengeksplorasi pengetahuan awal siswa dengan baik, 2) Guru masih kurang memberikan penegasan terhadap pembenaran hasil debat dan kesimpulan, 3) Guru kurang efektif dan efisien dalam memanagemen waktu.

Selain faktor dari guru peneliti, pengelolaan pembelajaran yang masih kurang baik dikarenakan oleh siswa itu sendiri ada yang masih mengerjakan tugas lain saat proses debat berlangsung. Dari hasil evaluasi diketahui bahwa masih ada hal yang harus diperbaiki pada siklus pembelajaran selanjutnya. Hal-hal yang perlu diperbaiki yaitu  guru hendaknya lebih memperhatikan kekurangan yang ada pada siklus sebelumnya. Kekurangan-kekurangan ini dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk proses pembelajaran atau siklus III sehingga proses dan hasil pembelajaran selanjutnya akan mengalami peningkatan dan mencapai hasil yang maksimal.

Hasil Belajar Siswa Siklus II

Hasil belajar siswa diperoleh dengan melakukan tes tertulis pada pertemuan kedua yaitu tanggal 20 Maret 2011. Dalam penilaian ini peliaian dilakukan terhadap ranah kognitif.  Nilai rata – rata dan kategori hasil belajar siswa pada siklus II yaitu jumlah siswa yang mendapat nilai kriteria sangat baik yaitu 9 orang yang pada siklus I tidak ada siswa yang mencapainya. Siswa yang mendapat kategori nilai baik sebanyak 11 siswa.  Pada siklus II,  kenaikan nilai siswa yang diukur dari evaluasi mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran dengan model debat aktif memberikan pemahaman yang sangat baik kepada siswa, sehingga hasil belajarnya juga baik. Rata – rata nilai keseluruhan dari siswa kelas XI pada siklus II adalah 76,70 atau 77. Untuk kriteria ketuntasan belajar pada siklus II, yaitu siswa yang mendapat standar nilai diatas kriteria ketuntasan minimal ada 17 siswa atau 85 % dari kriteria ketuntasan belajar. Siswa yang nilainya di bawah nilai KKM hanya 3 siswa atau 15 % dari jumlah siswa. Data pada siklus ke II ini memberikan penggambaran bahwa hasil belajar siswa telah mengalami peningkatan yang sangat baik dan signifikan dari siklus I ke siklus ke II.

Rekomendasi untuk Siklus III

Berdasarkan refleksi siklus II, direkomendasikan perbaikan tindakan untuk siklus III sebagai berikut : 1) Memberikan motivasi yang lebih baik kepada siswa, 2) Saat mengawali pembelajaran apersepsi terhadap siswa lebih ditekankan, sehingga siswa menjadi lebih tertarik terhadap materi yang akan dibahas, 3) Membacakan pertanyaan kontroversi kepada siswa lebih jelas, 4) Penggunaan waktu lebih diefektifkan lagi dengan memberikan batas maksimal waktu untuk debat dan 5) Memberikan penegasan dan penyimpulan yang baik kepada siswa diakhir pembelajaran.

Siklus III

Pada siklus III pembelajaran Agama Hindu kelas XI di Pasraman Saraswati dilaksanakan sebanyak  2 kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 27 Maret 2011, sedangkan pada pertemuan kedua yang dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 3 April 2011 dilakukan tes tertulis untuk mengetahui hasil belajar siswa. Pertemuan pertama dalam alokasi waktu 3 x 50 menit, dihadiri oleh 20 orang siswa yang terdiri dari 10 siswa perempuan dan 10 siswa laki – laki. Kegiatan siklus ketiga ini diawali dengan pembagian kelompok yaitu debat aktif. Siswa yang hadir dibagi menjadi 2 kelompok pro dan kontra. Kelompok pro dibagi menjadi dua sub kelompok, tujuannya supaya setiap kelompok pro dan kontra saling berhadap hadapan.

Guru peneliti memulai pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Setelah itu,  siswa duduk dalam kelompok masing–masing. Guru memberikan suatu pertanyaan yang mengandung kontroversi, kemudian guru membimbing siswa untuk berargumen terhadap pertanyaan tersebut, dengan pokok bahasan Kitab Suci. Dari kelompok pro memberikan pendapat yang berisi alasan–alasan untuk mendukung masalah tersebut. Kelompok kontra memberikan alasan – alasan yang sifatnya menentang atau tidak setuju terhadap permasalahan dalam pertanyaan tersebut.

Pada siklus III diskusi berjalan dengan sangat baik, siswa mulai terbiasa menerapkan model pembelajaran debat aktif. Kegiatan siswa yang tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran sudah sedikit. Mereka berdiskusi dengan debat dengan penuh semangat. Ketika siswa asik berdebat guru peneliti melakukan pengamatan terhadap siswa yang melakukan kegiatan yang tidak relevan. Setelah berdebat pendapat, guru peneliti memberikan pembenaran, atau menengahi permasalahan yang ada. Guru memberikan pembenaran , arahan dan penyimpulan terhadap pertanyaan yang kontroversi tersebut. Pelaksanaan evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa pada siklus ketiga dilaksanakan Minggu kedua yaitu tanggal 3 April 2011. Materi evaluasi yaitu berkaitan dengan Kitab Suci.

Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus III

Data hasil ketercapaian aktivitas siswa dalam pembelajaran siklus III mengalami peningkatan.  Ketercapaian aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model debat aktif, yaitu 97 % siswa yang on task, sedangkan siswa off task sebesar 3%. Data keaktifan siswa pada siklus III menunjukkan bahwa siswa yang memiliki aktivitas dengan kategori aktif sebesar 100 %. Data ini menunjukan bahwa pada siklus III semua siswa telah aktif terlibat dalam pembelajaran.

Hasil Observasi Pengelolaan Pembelajaran Guru Peneliti.

Selama pembelajaran berlangsung, kinerja guru peneliti diamati dan dinilai oleh guru mitra. Data observasi aktivitas guru peneliti menunjukkan bahwa pengelolaan pembelajaran guru mencapai 88 %. Data ini memberikan gambaran bahwa pengelolaan pembelajaran oleh guru sudah baik dibandingkan dengan  siklus sebelumnya.

Refleksi Siklus III.

Berdasarkan hasil tindakan siklus III dan pengamatan yang dilakukan oleh guru mitra diperoleh kesimpulan bahwa guru peneliti telah melaksanakan proses pembelajaran lebih baik dibandingkan siklus sebelumnya. Hal ini terlihat dari siswa yang semakin termotivasi dan aktif untuk mengikuti pembelajaran. Siswa sangat aktif dan bersemangat dalam diskusi debatnya, keterlibatan ini berpengaruh terhadap aktivitas dan hasil belajarnya. Berdasarkan hasil refleksi setiap siklus, diperoleh bahwa secara umum pembelajaran dengan model debat aktif pada mata pelajaran Agama Hindu di Pasraman Saraswati sudah baik sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran.

Hasil Belajar Siswa Siklus III.

Hasil belajar siswa diperoleh dengan melakukan tes secara tertulis yang dilakukan pada pertemuan ketiga yaitu tanggal 3 April 2011 untuk penilaian terhadap ranah kognitif. Nilai rata-rata dan kategori hasil belajar siswa pada siklus III yaitu jumlah siswa yang mendapat nilai kriteria baik sekali mengalami peningkatan yaitu 15 orang dan  kategori nilai baik sebanyak 5 siswa. Pada siklus III telah terjadi kenaikan hasil belajar siswa yang sangat signifikan diukur dari nilai hasil belajar. Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran dengan model debat aktif memberikan pemahaman yang sangat baik kepada siswa, sehingga hasil belajarnya juga baik. Rata – rata nilai keseluruhan dari siswa kelas XI pada siklus III adalah 83,35. Untuk kriteria ketuntasan belajar pada siklus III memberikan penggambaran bahwa siklus III seluruh siswa sudah mencapai standar KKM. Data ini menunjukan bahwa model pembelajaran debat aktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

 Deskripsi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran

Aktivitas siswa kelas XI dalam pembelajaran dengan metode debat aktif mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Pada siklus I, aktivitas siswa yang relevan dengan kegiatan pembelajaran (on task) adalah sebesar 76%. Pada siklus II, aktivitas siswa yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran (on task) sebesar 89 %. Pada siklus III, aktivitas siswa yang relevan dengan kegiatan pembelajaran (on task) sebesar 97%. Pada siklus I aktivitas siswa dalam pembelajaran sudah baik. Rata – rata siswa sudah aktif mengikuti proses pembelajaran, hanya ada beberapa siswa yang melaksanakan kegiatan tidak relevan. Hal ini disebabkan mereka belum terbiasa bekerja sama dalam kelompok debatnya. Selain hal tersebut, siswa belum terbiasa menggunakan model belajar debat aktif yang menyebabkan komunikasi antar siswa masih kurang.

Pada siklus II terjadi peningkatan aktivitas relevan dengan kegiatan pembelajaran (on task). Hal ini terlihat dari semakin sedikitnya siswa yang melakukan kegiatan di luar pembelajarn (off task). Pada siklus II siswa sudah mulai terbiasa menggunakan model pembelajaran debat aktif untuk memecahkan suatu masalah yang berupa pertanyaan yang kontroversi yang diberikan oleh guru. Siswa yang tadinya tidak mau berpendapat menjadi ikut serta berperan aktif dalam debat tersebut, hal inidisebabkan adanya motivasi dan dukungan baik dari guru maupun kelompok debatnya.

Pada siklus III aktivitas siswa kembali meningkat. Sedikit sekali siswa yang melakukan kegiatan diluar konteks pelajaran (off task). Hal ini disebabkan siswa sangat menyukai pembelajaran dengan model debat aktif. Dari ketiga siklus yang telah dilaksanakan, siswa menunjukan respon positif terhadap model pembelajaran debat aktif. Pada siklus III siswa mengemban tanggung jawab yang diberikan oleh guru untuk mempertahankan kelom-poknya masing-masing dengan baik. Siswa sangat fokus terhadap materi pelajaran yang diberikan oleh guru.

Penilaian aktivitas siswa yaitu dengan kategori “kurang aktif” yaitu aktivitas siswa dengan rentang nilai < 59,4. Kategori “cukup aktif” yaitu aktivitas siswa dengan rentang nilai < 75,6 dan kategori “aktif” yaitu aktivitas siswa dengan rentang nilai ³ 75,6. Data deskripsi aktivitas siswa dari siklus ke siklus yaitu pada siklus I terdapat 13 siswa yang “aktif”, 6 siswa”cukup aktif”, dan 1 siswa nilai aktivitas dengan kategori “kurang aktif”. Pada siklus II terjadi peningkatan aktivitas siswa, semua siswa pada siklus II terkategori aktif. Begitu juga pada siklus III semua siswa aktivitasnya berada dalam kategori aktif. Data Aktivitas siswa pada siklus II dan III dengan model pembelajaran debat aktif sangat baik.

Secara umum nilai rata – rata aktivitas siswa mengalami peningkatan pada tiap – tiap siklus. Pada siklus I, aktivitas siswa tergolong aktif dengan persentase 76 %, pada siklus II, aktivitas siswa tergolong aktif dengan persentase 89 %,  sedangkan pada siklus III, aktivitas siswa mencapai 97 % dengan kategori aktif. Angka ini menunjukan adanya peningkatan rata – rata aktivitas siswa dari siklus ke siklus, yaitu sebesar 13 % dari siklus I ke siklus II dan 8 % dari siklus II ke siklus III.

Berdasarkan analisis ini, dapat dinyatakan bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran debat aktif dapat meningkatkan aktivitas siswa. Hal ini disebabkan model pembelajaran debat aktif banyak melibatkan siswa di dalam proses belajar dan mengasah kemampuan berfikir kritis siswa terhadap permasalahan yang ada.

 Deskripsi Pengelolaan Pembelajaran Guru

Nilai aktivitas guru didapat dari lembar observasi pengelolaan pembelajaran guru penelti yang di observasi oleh guru mitra. Aspek yang dinilai dari pengelolaan pembelajaran guru meliputi tiga hal yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup dalam mengajar (data pada lampiran).  Dalam kegiatan pendahuluan aspek yang dinilai meliputi: menginformasikan SK, KD dan tujuan pembelajaran, memunculkan rasa ingin tahu siswa, melaksanakan apersepsi dan memotivasi siswa. Aspek kedua yang dinilai adalah melaksanakan kegiatan inti pembelajaran yang meliputi : membimbing siswa dalam membagi kelompok debat,memberi pertanyaan kontroversi, membimbing siswa untuk berdebat, meminta perwakilan kelompok untuk memberikan pendapat, pengamatan terhadap siswa yang tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran, membimbing siswa agar semua aktif terlibat, pembenaran dan memberikan kesimpulan terhadap hasil diskusi. Penilaian yang ketiga adalah kemampuan guru didalam menutup pelajaran, aspek yang dinilai antara lain: Penegasan konsep atau materi pelajaran, refleksi dan pemberian tugas rumah. Aktivitas guru kegiatan pembelajaran mencapai rata – rata mengalami peningkatan dari siklus ke siklus berikutnya, hal ini menunjukkan bahwa guru dapat mengelola proses pembelajaran dengan baik dan siswa antusias dalam melakukan kerja debat aktif dalam menyelesaikan masalah.

Besarnya persentase aktivitas guru atau penilaian pengelolaan pembelajaran guru pada siklus I adalah 70 %. Persentase pengelolaan pembelajaran guru pada siklus II adalah 80 %. Pada siklus III, persentase penilaian pengelolaan pembelajaran guru sebesar 88 %.  Kriteria A, nilai 80 – 100 dengan predikat “baik sekali”, kriteria B, nilai 66 – 79 dengan predikat “baik”,  kriteria C, nilai 56 – 65 dengan predikat “cukup”, kriteria D, nilai 40 – 55 dengan predikat “kurang”,  dan kriteria E, nilai 30 – 39 dengan predikat “gagal”. Pengelolaan pembelajaran guru setiap siklus mengalami peningkatan. Peningkatan ini terjadi karena guru peneliti melakukan refleksi dalam setiap setiap siklus. Refleksi ini dilakukan sesuai saran dan keterangan yang diberikan guru mitra saat mengajar. Pada siklus I penilaian pengelolaan pembelajaran guru atau aktivitas guru dengan persentase 70 % dengan kriteria B predikat “baik’. Pada siklus II penilaian pengelolaan pembelajaran guru meningkat 10 % dengan persentase 80 %, dengan kriteria A predikat “baik sekali”. Pada  siklus III pengelolaan pembelajaran guru meningkat 8 % dengan persentase 88 %, kriteria A dengan predikat “baik sekali”. Secara keseluruhan pembelajaran guru peneliti meningkat di setiap siklusnya. Peningkatan ini sebesar 10 % dari siklus I ke siklus II dan sebesar 18 % dari siklus II ke siklus III. Berdasarkan data hasil penelitian mengenai pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru peneliti mengalami peningkatan. Hal ini menunjukan model pembelajaran debat aktif juga meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran.

Deskripsi Hasil Belajar Siswa

Setelah dilakukan pembelajaran dengan model pembelajaran debat aktif pada setiap akhir siklus diadakan evaluasi tes tertulis untuk mengetahui hasil belajar. Tujuannya untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan. Evaluasi ini sebagai bahan pertimbangan bagi guru peneliti untuk melanjutkan pembelajaran pada materi berikutnya. Materi evaluasi merupakan materi yang disampaikan dalam tindakan yang dilakukan pada setiap pertemuan yang berjumlah 10 soal dalam bentuk pilihan ganda.

Alat yang digunakan untuk mengukur hasil belajar pada setiap siklusnya dalam bentuk yang sama, hanya saja berbeda pada materi pelajarannya. Rentang penilaian rata – rata hasil tes berdasarkan pedoman Arikunto (2001:245) yaitu jika nilai siswa ³ 80 – £ 100, maka dikategorikan sangat baik. jika ³ 66 – < 80,maka dikategorikan baik, jika  ³ 55 – < 66, maka dikategorikan cukup, dan nilai yang 0 – < 55, maka dikategorikan kurang baik. Pada siklus 1 terdapat 4 siswa yang mendapat nilai dengan kategori “cukup”, dan 16 siswa yang mendapat nilai dengan kategori “baik”. Pada siklus II terjadi peningkatan yatitu terdapat 9 siswa mendapat nilai dengan kategori “sangat baik”, dan 11 siswa yang mendapat kategori nilai”baik”. Peningkatan juga terjadi pada siklus III dengan nilai siswa yang berkategori “sangat baik” bertambah menjadi 15 siswa dan siswa dengan kategori baik hanya 5 siswa. Secara umum hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran debat aktif selalu mengalami peningkatan. Pada siklus I nilai rata – rata siswa adalah 71 kategori “baik”, meningkat 6 point pada siklus II yaitu dengan rata – rata 77 kategori “baik”, dan meningkat lagi 6 point pada siklus III dengan nilai rata – rata 83 dengan kategori “sangat baik”. Terjadinya peningkatan hasil belajar ini menunjukan bahwa model pembelajaran debat aktif memberikan pemahaman yang baik terhadap materi yang diajarkan sehingga hasil belajarnya meningkat pada setiap siklus. Dari siklus I sampai siklus III mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Hasil belajar siswa setiap siklus peningkatanya sangat signifikan. Siklus I siswa yang mendapat kriteria nilai “cukup” ada 4 orang, nilai “baik” ada 16 orang. Siklus II siswa yang mendapat kriteria nilai “cukup” ada 1 orang, kriteria nilai “baik” ada 11 orang, kriteria nilai “baik sekali” ada 9 orang. Siklus III siswa yang mendapat nilai “baik” ada 5 orang, kriteria nilai “baik sekali” ada 15 orang. Pada silkus III tidak ada siswa yang mendapat nilai dibawah standar kriteria ketuntasan minimal (KKM). Berdasarkan data hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa penerapan model pembelajaran debat aktif dapat meningkatkan aktivitas siswa, hasil belajar serta dapat meningkatkan kinerja guru dalam mengelola pembelajaran.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran debat aktif (active debate) dapat :

  1. Meningkatkan aktivitas belajar siswa dari siklus ke siklus lainya. Pada siklus I aktivitas siswa yang relevan dengan kegiatan pembelajaran (on task) adalah sebesar 76 % tergolong ”aktif”, pada siklus II aktivitas siswa yang relevan dengan kegiatan pembelajaran (on task) adalah sebesar 89 % tergolong ”aktif”. Pada siklus III aktivitas siswa juga mengalami peningkatan menjadi 97 % tergolong ”aktif”. Peningkatan aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 13 %, dari siklus II ke siklus III sebesar 8 %.
  2. Pembelajaran dengan model debat aktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa hal ini dapat dilihat dari hasil kegiatan pada siklus I memperoleh rata – rata nilai 71 tergolong ”baik”. Pada siklus II memperoleh rata – rata nilai 77 meningkat 6 point tergolong ”baik” dan meningkat kembali pada siklus III dengan rata – rata nilai 83 tergolong ”sangat baik”.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto Suharsini.  2001.  Dasar—Dasar Evaluasi Pendidikan.  Bumi Aksara. Jakarta. 308 halaman.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *