IMPLEMENTASI AJARAN CATUR VARNA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT HINDU BALI ( Studi di Desa Cahaya Mas, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan )

IMPLEMENTASI AJARAN CATUR VARNA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT HINDU BALI ( Studi di Desa Cahaya Mas, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan )

Oleh :

Gusti Made Sutame dan Ni Made Indrayani

Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

 

ABSTRAK : Implementasi Catur Varna dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali khususnya terlihat masih terpaku pada Catur Kasta. Dengan dasar pemahaman bahwa Catur Kasta adalah warisan leluhur mereka, hal ini yang menyebabkan Catur Kasta masih berlaku khususnya untuk umat Hindu Bali yang berada dipedesaan atau umat Hindu yang masih awam dengan pemaham ajaran agama Hindu. Pemahaman yang kurang tentang munculnya Kasta di Bali oleh masyarakat Hindu Etnis Bali menyebabkan pemikiran mereka masih menjalankan sistem yang kurang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi mengenai ajaran Catur Varna yang dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Cahaya Mas, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.

 

Kata Kunci : Catur Varna

 

PENDAHULUAN

Ajaran suci agama Hindu yang mengatur tentang tatanan hidup masyarakat sesuai dengan profesi atau pekerjaanya ini cukup relevan pada zaman sekarang ini. Perbedaan setiap orang dalam melakukan rutinitas sehari-hari bukan sebagai landasan seseorang harus dihormati atau direndahkan. Setiap orang memiliki kedudukan yang sama dihadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Perbedaan setiap orang ditentukan karma yang dilakukan oleh seseorang sesuai dengan  profesi yang ditekuni. Seseorang akan sangat dihormati, jika ia dapat melaksanakan kewajiban dengan baik. Catur Varna yang membagi kedudukan setiap orang berada pada Varna Brahmana, Ksatriya, Wasya, Sudra. Kedudukan dapat berubah sesuai dengan prilaku yang dilakukan orang tersebut. Jadi ke-4 (empat) pembagian kedudukan seseorang tidaklah sesuatu hal yang mutlak seperti halnya kasta yang diturun-temurunkan.

 

 

METODE PENELITIAN

 

Penelitian ini dilakukan di Desa Cahaya Mas, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir pada tahun 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Data yang disajikan dalam hasil penelitian ini merupakan data empirik yang bersumber dari dakumen berupa tulisn-tulisan yang didapatkan, observasi, wawancara, dan dokumen berupa gambar-gambar yang dikumpulkan.

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Masyarakat Bali pada kenyataannya dewasa ini dibagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama, yang secara tradisional dikatakan berasal dari keturunan Dang Hyang Dwijendra dan Dang Hyang Astapaka. Kedua pendeta ini diyakini sebagai cikal bakal Wangsa Brahmana Siwa dan Brahmana Budha di Bali. Umumnya, rumah tinggal kedua Brahmana ini disebut Grihya atau Grihya. Golongan kedua adalah gologan yang berasal dari keturunan para Ksatriya yang berasal dari Kediri dan Majapahit. Keturunan ini disebut Ksatriya Wangsa. Tempat golongan ini disebut Jero atau Puri. Golongan ketiga adalah golongan yang bertempat tinggal di luar Jero, Puri dan Grihya. Mereka disebut orang jaba. Jadi ada tiga golongan, Brahmana Wangsa, Ksatriya Wangsa, dan Jaba Wangsa. (Wiana, Ketut dan Santeri, Raka. 1993:22).

Masyarakat yang ada di Bali sebagian besar atau mayoritas memeluk agama Hindu. Dengan keadaan masyarakat yang seperti ini memiliki pelapisan sosial yang dikenal dengan Wangsa. Sistem Wangsa yang diterapkan dalam masyarakat Hindu Etnis Bali ialah membagi masyarakat dalam kelompok-kelompok secara vertikal. Selain itu pelapisan yang dikenal ialah sistem Kasta yang mengelompokan masyarakat berdasarkan keturunannya. Kedua sistem pelapisan sosial ini sesungguhnya bukan berdasarkan ajaran agama Hindu. Namun secara samar-samar masyarakat menggunakan sistem pelapisan yang kurang baik ini. Pelapisan sosial yang diterapkan oleh masyarakat baik sistem Wangsa dan sistem Kasta, kedua sistem ini memberikan hak-hak istimewa terhadap keturunan tertentu atau keturunan yang dianggap mulia. Keturunan yang dianggap mulia atau lebih tinggi ialah keturunan seorang Brahmana dan Raja. Secara tradisional para keturunan yang dianggap Brahmana ataupun Ksatriya memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari golongan yang lainnya.

Sesungguhnya munculnya sistem Wangsa yang dikenal di Bali berasal dari Jawa. Kedatangan umat Hindu yang dibawa oleh Dang Hyang Dwijendra dan Dang Hyang Astapaka sebagai golongan Brahmana. Golongan Ksatriya berasal dari pemimpin kerajaan Kediri dan Majapahit. Kelompok masyarakat yang tergolong rendah atau Wangsa Jaba ialah golongan masyarakat yang berada diluar kedua kelompok masyarakat di atas. Namun ketidakjelasan yang dipahami tentang pengertian sistem Wangsa, Kasta, dan Catur Varna oleh masyarakat secara luas mengakibatkan pengklasifikasian dari setiap keturunan terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama. Setiap keturunan akan dianggap mulia jika berasal dari keturunan Raja ataupun Brahmana, sebaliknya keturunan yang berasal dari pelayan atau seorang petani akan dianggap keturunan yang lebih rendah.

Sistem yang membagi masyarakat berdasarkan keturunan, jika dilihat dari sudut pandang agama yaitu Catur Varna sangat berbanding terbalik. Catur Varna yang termuat ialah pembagian kerja berdasarkan guna (sifat) dan karma (perbuatan).  Pemahaman dan pengamalan tentang ajaran  Catur Varna belum sepenuhnya diterapkan dalam masyarakat di Bali. Akhirnya pada saat Negara Kesatuan Republik Indonesia merdeka dari bangsa penjajah, ajaran atau sistem Kasta dan sistem Wangsa dihapuskan. Dengan demikian kelompok masyarakat yang tergolong rendah banyak menempuh pendidikan tinggi, sehingga pemahaman tentang ajaran Catur Varna sudah banyak dipahami oleh masyarakat.

Jika dilihat keadaan masyarakat di luar Bali, salah satunya di daerah Sumatera Selatan yaitu di Desa Cahaya Mas, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Kehidupan masyarakat Hindu masih kental dengan tradisi Bali. Dalam lingkup upacara agama seperti dalam upacara Dewa Yajna, Pitra Yajna, Manusa Yajna, dan Bhuta Yajna seorang serati banten yang merasa dirinya lebih tinggi dari yang orang melakukan upacara ada yang tidak berkenan menuntun upacara tersebut. Suatu keadaan yang seperti itu seakan tradisi Kasta atau Wangsa masih dilaksanakan pada zaman modern ini. Sepatutnya masyarakat yang hidup di zaman modern ini mampu mengamalkan ajaran agama Hindu. Kejadian atau permasalahan yang bernuansa Kasta ini sering terlihat dalam lingkup masyarakat yang berada di Desa Cahaya Mas.

Seperti halnya disaat ada upacara Pitra Yajna atau orang  meninggal, masyarakat yang merasa dirinya tergolong Kasta lebih tinggi tidak berkenan membantu mencuci piring, menyapu halaman orang yang berduka. Kalaupun secara individu ada yang berkenan melakukan pekerjaan tersebut. Tokoh atau orang yang dituakan oleh sekelompok Ksatriya ini melakukan teguran kepada individu yang dianggap melakukan pelanggaran.  

Kenyataan umat Hindu Bali yang terdiri dari golongan Brahmana, Ksatriya, dan Jaba inilah yang melakukan kehidupan beragam Hindu Bali. Penamaan tempat tinggalnya, tempat pemujaannyapun dibeda-bedakan. Kalau rumah tinggal mereka yang tergolong Brahmana disebut Gria. Rumah tinggal Ksatriya disebut Jero atau Puri. Dewasa ini penggunaan istilah Jeropun semakin diganti dengan istilah Puri. Sedangkan rumah tinggal orang Jaba disebut “umah”. Tempat pemujaan pekarangan rumah tinggal golongan Brahmana disebut Pelinggih dan golongan Ksatriya disebut Merajan. Sedangkan tempat pemujaan golongan Jaba disebut Sanggah. Baru segelintir orang Jaba yang menyatakan tempat pemujaan leluhurnya itu Merajan. Demikian pula dengan warga Jaba yang sudah melakukan Dwijati sebagai Pandita tempat tinggalnya disebut Grihya. Pada awalnya hal ini mendapat sikap sinis dari sementara yang masih yang termakan oleh tradisi feodal. (Wiana, Ketut. 2006:156).

Dalam buku Ketut Wiana ini juga mengatakan bahwa sesunguhnya pengertian Catur Varna dapat dipahami oleh kaum yang melakukan pendidikan tinggi. Namun dalam praktik adat sosial masyarakat Hindu Bali masih terlihat menonjolkan Kasta yang berdasarkan keturunan atau kelahirannya. Dalam pergaulan sehari-hari terlihat banyak kejadian yang bernuansa menjunjung tinggi Kasta ini. Seperti halnya ketika seorang yang merasa lebih rendah harus menggunakan bahasa halus kepada lawan bicaranya. Namun ketika lawan bicara tersebut termasuk golongan Brahmana atau lebih tinggi menggunakan bahasa biasa (bahasa jabag).

Sikap yang merendah ini tentu bertentangan dengan ajaran agama karena pada dasarnya semua mahluk sama di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Yang terlihat ialah tradisi yang diterapkan dari zaman dahulu samapi sekarang. Serta tradisi yang dilaksanakan terkesan memuliakan kelompok masyarakat tertentu.

Dalam halnya pidato atau sambutan-sambutan resmi yang ada di Bali menggunakan kata pembukaan yang terlihat membedakan kedudukan dari Kasta tinggi sampai rendah. Contohnya: Ida dane ipun sane kusumayang titiang, Ratu Ida dane sane kusumayang titiang, Ratu suryan titiang muah para gustin titiang taler para nyaman titiang sareng sinamian sane dahat suksamayang titiang. Secara keseluruhan sambutan yang digunakan di atas memiliki makna bahwa penghormatan yang dibeda-bedakan berdasarkan golongan Kasta. Istilah-istilah yang terdapat dalam sambutan tersebut membedakan masyarakat secara kedudukan, seperti istilah Ida ditujukan kepada golongan Brahmana, Ratu dan Suryan titiang ditujukan kepada golongan Ksatriya. Sedangkan istilah Ipun penghormatan kepada masyarakat golongan Sudra atau Wangsa Jaba.

Dari pembahasan tentang penerapan atau implementasi Catur Varna dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali khususnya terlihat masih terpaku pada Catur Kasta. Dengan dasar pemahaman bahwa Catur Kasta adalah warisan leluhur mereka, hal ini yang menyebabkan Catur Kasta masih berlaku khususnya untuk umat Hindu Bali yang berada dipedesaan atau umat Hindu yang masih awam dengan pemaham ajaran agama Hindu. Pemahaman yang kurang tentang munculnya Kasta di Bali oleh masyarakat Hindu Etnis Bali menyebabkan pemikiran mereka masih menjalankan sistem yang kurang baik.

Kelompok masyarakat yang berada di Desa Cahaya Mas jika dilihat dari sudut pandang Kasta yang sesuai dengan titel nama hanya terdapat 2 (dua) kelompok Kasta atau Wangsa yaitu kelompok Ksatriya yang berasal dari titel nama depan Dewa, Gusti, dan Ngakan. Sedangkan kelompok Sudra yang bertitel nama depan Wayan, Iluh, Putu, Gede, Made, Kadek, Komang, Nyoman, Ketut, dan lain-lain. Namun untuk Kasta Waisya susah dicari identiknya karena tidak memiliki ciri nama yang dapat dikatakan Kasta Waisya atau para pedagang.

Kenyataan yang terjadi pada masyarakat yang berada di Desa Cahaya Mas terdapat pula perbedaan sebutan nama Jero yang umunya digunakan oleh kelompok masyarakat yang tergolong Ksatriya. Bagi masyarakat yang tergolong Kasta Sudra menyebut nama rumahnya dengan nama Umah. Sedangkan nama Merajan digunakan oleh kelompok masyarakat Ksatriya untuk sebutan nama tempat pemujaan pribadi mereka. Penyebutan nama Sanggah untuk pemujaan pribadi untuk kalangan yang tergolong Sudra. Dengan keadaan yang seperti ini peneliti ingin mengetahui apakah sistem Wangsa dan Kasta masih tertanam secara utuh seperti dahulu kala.

Implementasi atau pengamalan ajaran Catur Varna dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali di Desa Cahaya Mas tentang implementasi atau pengamalan  ajaran Catur Varna dalam melaksanakan tugas atau kewajibannya. setiap individu masyarakat sudah melaksanakan dengan baik. Namun demikian masih ada kekurangan sedikit seperti Pemangku belum mampu memberikan pencerahan rohani kepada umat. Dalam kehidupan masyarakat orang dikatakan menempati kedudukan rendah atau tinggi berdasarkan fungsi kerja masing-masing. Masyarakat Hindu di Cahaya Mas ini masih terikat dengan Catur Kasta, dilihat dari pranata sosial yang belum memahami tentang Catur Varna.

Masyarakat di Cahaya Mas ini masih terikat dengan Catur Kasta, ini terlihat dari masih kakunya masyarakat, masih individualisme, sebagai contoh pada saat upacara orang meninggal terlihat sekali perbedaan tersebut karena anggapan masyarakat yang memiliki Kasta berbeda dengan orang lain. Pekerjaan yang tergolong rendah itu tidak ada karena orang yang menyapu saja sudah dikatakan ngaturang ngayah.

Masyarakat Hindu di Cahaya Mas masih terikat dengan Catur Kasta seperti ketika ada orang meninggal, ada yang membedakan Kasta yang lebih tinggi, dan memposisikan diri, dan tidak mau dekat. Pekerjaan itu standar tidak ada yang rendah, tidak pernah membeda-bedakan pekerjaan selama dapat melaksanakan pekerjaan itu.

Kewajiban yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat masih terdapat kekurangan. Hal itu terjadi karena koordinasi antara pemimpin umat belum memahami pembagian tugas dengan baik. Dalam masyarakat orang dikatakan rendah atau tinggi berdasarkan kemampuan atau keahlian. Masyarakat Hindu di Cahaya Mas masih terikat dengan Catur Kasta dan masih diagung-agungkan tentang Kasta karena masyarakat di Cahaya Mas masih belum memahami Catur Kasta dan Catur Varna.

Jadi, masyarakat Hindu di Desa Cahaya Mas dalam hal implementasi ajaran Catur Varna sebagian besar masyarakat sudah menerapkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Catur Varna tersebut. Hal ini terlihat dari jawaban responden yang menjelaskan konsep pemikiran mereka sudah tergambar yang menjadi dasar orang dikatakan memiliki kedudukan berdasarkan kerja dan sifat yang sesuai dengan profesinya. Dari keempat pengelompokan masyarakat ada beberapa orang yang memiliki prilaku dan sifat yang kurang baik dalam melaksanakan tugas atau kewajibannya, anggapan ini hanya dikemukan oleh beberapa responden. Sedangkan kaitannya antara Catur Varna dengan sistem Kasta (Catur Kasta) memang dirasa masih mempengaruhi masyarakat namun ini hanya sebagian kecil masyarakat (hanya kelompok masyarakat tertentu). Pada dasarnya masyarakat tersebut sudah menerapkan secara langsung atau tidak langsung ajaran Catur Varna. Namun karena oknum tertentu kelompok tersebut seolah-olah masih sangat terikat dengan Catur Kasta.

Data yang dihasilkan dari kuesioner tentang implementasi ajaran Catur Varna dalam masyarakat Hindu Bali di Desa Cahaya Mas, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir dapat ditampilkan pada tabel dibawah ini:

 

Tabel 4.8. Pengamalan Ajaran Catur Varna

Indikator Option (y) Jumlah
X SS S TS STS
12 5 21 19 5 50
13 17 19 11 3
14 3 20 19 8
16 1 10 35 4
18 25 21 4 0
19 35 9 2 4

 

 

Tabel 4.9. Presentase Pengamalan Ajaran Catur Varna

Indk Option (y) Jumlah
X SS S TS STS SS,S TS,STS
12 10 42 38 10 52 48
13 34 38 22 6 72 28
14 6 40 38 16 46 54
16 2 20 70 8 22 78
18 50 42 8 0 92 8
19 70 18 4 8 88 12
rata-rata 28.6 33.3 30 8 62 38

 

Berdasarkan Tabel 4.8, 4.9, dan Grafik 3 tentang pengamalan ajaran Catur Varna masyarakat menyatakan 52% sangat setuju dan setuju dalam kehidupan sehari-hari orang yang tergolong Sudra harus dihormati. Masyarakat sangat setuju dan setuju ada 72% bahwa soroh atau keturunan tidak jadi penentu orang tersebut dimuliakan atau dianggap orang biasa. Pernikahan dengan mencuri anak gadis yang dilakukan oleh pihak laki-laki masih sesuai dengan zaman modern ini 54% masyarakat menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju karena sudah kurang menyesuaikan zaman sekarang ini. Masyarakat menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju ada 78% bahwa orang yang tergolong pedagang cukup dihormati dimasyarakat Hindu suku Bali. Masyarakat menyatakan sangat setuju dan setuju ada 92% bahwa menghormati bukan berdasarkan nama yang dimiliki (disandangnya). Masyarakat menyatakan sangat setuju dan setuju ada 88% bahwa kekayaan tidak dijadikan ukuran untuk menghormati seseorang.

 

Tabel 4.10. Kewajiban Dalam Melaksanakan Pekerjaan (profesi)

Indikator option (y) Jumlah
X SS S TS STS
11 39 10 0 1 50
15 23 26 0 1
17 1 11 36 2
20 31 18 0 1

 

Tabel 4.11. Presentase Kewajiban Dalam Melaksanakan Pekerjaan (profesi)

Indk Option (y) Jumlah
x SS S TS STS SS,S TS,STS
11 78 20 0 2 98 2
15 46 52 0 2 98 2
17 2 22 72 4 24 76
20 62 36 0 2 98 2
rata-rata 47 32.5 18 2.5 79.5 20.5

 

Berdasarkan Tabel 4.10, 4.11, tentang kewajiban dalam melaksakan profesi masyarakat menyatakan sangat setuju dan setuju ada 98% bahwa seorang pemimpin upacara tidak boleh membeda-bedakan saat memimpin upacara agama di golongan Sudra, Waisya, Ksatriya, dan Brahmana. Masyarakat menyatakan menyatakan sangat setuju dan setuju ada 98% bahwa serati banten tidak memilah-milah dalam memimpin upacara agama. Masyarakat menyatakan sangat tidak setuju dan sangat tidak setuju ada 76% bahwa anak seorang Brahmana tidak dapat mewarisi keahlian orang tuanya. Masyarakat menyatakan sangat setuju dan setuju ada 98% bahwa seorang Brahmana dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan kewajiban dan dapat menjadi panutan masyarakat.

 

 

PENUTUP

 

Pengamalan ajaran Catur Varna dalam halnya melaksanakan tugas atau kewajiban sudah mengamalkan dengan baik ini terlihat presentase rata-rata 62%-79%. Walaupun ada beberapa individu yang terlihat melaksanakan tugas kurang baik dan ini hanya sebagian kecil saja. Karena sesungguhnya masyarakat Hindu di Desa Cahaya Mas sudah menerapkan konsep-konsep dasar ajaran Catur Varna.

 

SARAN

 

Hendaknya masyarakat dapat memahami ajaran Catur Varna dengan baik melalui pencerahan atau penyuluhan baik itu Dharmawacana dan Dharmatula, oleh pemimpin umat Hindu agar generasi penerus dan orang tua bisa memahami ajaran Catur Varna sehingga masyarakat tidak terlihat mengagungkan Kasta yang didapat melalui kelahirannya ini.

Hendaknya nama yang disandang seseorang hanya sebagai penentu soroh atau keturunan dari mana ia berasal atau penentu Kawitan seseorang. Dengan demikian nama ini tidak menentukan kedudukan tinggi atau rendahnya derajat seseorang.

Hendaknya masyarakat yang tergolong Brahmana, Ksatriya Waisya, dan Sudra dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan ikhlas serta tidak merasa rendah atau tinggi dalam hal melakukan pekerjaan apapun karena semua bersifat pelayanan (sevanam).

 

DAFTRA PUSTAKA

Adiputra, Gede Rudia. 2003. Pengetahuan Dasar Agama Hindu. PT. Pustaka Mitra Jaya. Jakarta.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Renika       Cipta. Jakarta.

Bungin, M. Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif (Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya). Kencana Prenada Media Group. Surabaya.

Griffith, R.T.H. 2006. Yajurveda Samhita. Paramita. Surabaya

Gunawan, Heri. 2012. Karakter Konsep dan Implementasi. Alfabeta. Bandung

Kajeng, I Nyoman, dkk. 1997. Sarasamuccaya. Paramita. Surabaya.

Kerepun, Made Kembar. 2007. Mengurai Benang Kusut Kasta (Membedah Kiat Pengajekan Kasta di Bali). PT. Empat Warna Komunikasi. Jakarta.

Noor, Juliansyah. 2010. Metodologi penelitian (skripsi,tesis, disertasi, & karya ilmiah). Kencana Penada Media Group. Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *