FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA MINAT REMAJA UNTUK MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE PERGURUAN TINGGI DAN SOLUSINYA (Study Kasus di Desa Harapan Jaya Kecamatan Semendawai Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur)

FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA MINAT REMAJA UNTUK MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE PERGURUAN TINGGI DAN SOLUSINYA

(Study Kasus di Desa Harapan Jaya Kecamatan Semendawai Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur)

 

Oleh :

Wayan Puryati dan Ni Made Indrayani

Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

 

ABSTRAK : Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu, pendidikan harus terus menerus diperbaiki baik dari segi kwalitas maupun kwantitasnya. Adanya pendidikan dasar 9 tahun menunjukkan bahwa pemerintah berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan. Tujuan dari pendidikan dasar yaitu memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan tidak hanya cukup sampai pada tingkat dasar saja tetapi masih ada jenjang pendidikan di atasnya berupa pendidikan menengah yang harus ditempuh oleh siswa. Seiring dengan berjalannya waktu dan pembangunan di bidang pendidikan, peranan perguruan tinggi sangat penting untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan serta memiliki pola fikir yang lebih maju dari pada anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun pada kenyataannya tidak semua lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mereka ada yang memutuskan untuk bekerja atau menganggur.

     Berdasarkan analisis hasil wawancara dan kuisioner secara deskriftif diperoleh kesimpulan (1) Faktor yang menyebabkan rendahnya minat remaja untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi adalah karena orangtua kurang dalam memberikan dorongan semangat kepada anaknya untuk melanjutkan pendidikan perguruan tinggi. Selain faktor tersebut, penyebab lainnya yaitu karena kurangnya perhatian orangtua kepada anak sehingga anak melakukan hal-hal yang bersifat negatif seperti sering nongkrong dengan temannya, bolos sekolah serta lebih suka bergaul dengan anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sehingga diapun ikut terpengaruh oleh temannya tersebut. (2) Orangtua sudah salah dalam mendidik anak, mereka masih beranggapan bahwa pendidikan tidaklah penting yang terpenting adalah mereka bekerja dan bisa menghasilkan uang, sehingga mereka tidak pernah memperhatiakan bagaimana kegiatan sekolah anaknya. Mereka malah mengajarkan kepada anak mereka untuk bekerja diladang karena dengan anak mereka bekerja diladang maka anak tersebut bisa mendapatkan gaji yang lebih tinggi daripada gaji dari seorang PNS. Sedangkan jika anak tersebut kuliah dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maka orangtua akan banyak mengeluarkan uang dan untuk mengembalikan modal dari biaya kuliah pun sangat lama.

 

Kata Kunci : Peran orangtua, Motivasi, Pendidikan Perguruan Tinggi

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Pendidikan pertama kali dan yang paling utama dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan kita dapatkan di lingkungan keluarga, keluarga sebagai salah faktor yang ada dalam masyarakat memainkan peranan yang besar dalam pembinaan pola perilaku anak.

Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu, pendidikan harus terus menerus diperbaiki baik dari segi kwalitas maupun kwantitasnya. Adanya pendidikan dasar 9 tahun menunjukkan bahwa pemerintah berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan. Tujuan dari pendidikan dasar yaitu memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan tidak hanya cukup sampai pada tingkat dasar saja tetapi masih ada jenjang pendidikan di atasnya berupa pendidikan menengah yang harus ditempuh oleh siswa. Seiring dengan berjalannya waktu dan pembangunan di bidang pendidikan, peranan perguruan tinggi sangat penting untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan serta memiliki pola fikir yang lebih maju dari pada anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun pada kenyataannya tidak semua lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mereka ada yang memutuskan untuk bekerja atau menganggur.

Motivasi anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti cita-cita atau aspirasi, kemampuan belajar, kondisi siswa, kondisi lingkungan. Agar dapat melanjutkan sekolah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dibutuhkan adanya dorongan atau motivasi dari orangtua karena orangtua memiliki tanggung jawab   dalam   membentuk serta  membina   anak – anaknya.

Kedua orangtua   dituntut  untuk dapat mengarahkan   dan mendidik anaknya agar dapat   menjadi   generasi – generasi   yang  sesuai dengan tujuan hidup manusia. Peran orangtua merupakan salah satu faktor eksternal timbulnya motivasi bagi anak untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Peran orangtua dalam memotivasi anaknya akan memberikan suatu dorongan atau semangat untuk bertingkah laku dalam melakukan kegiatan bagi seseorang untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan, tanpa peran orangtua dalam motivasi anaknya maka aktivitas hidup seseorang akan menurun. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 1989 Bab I pasal 1 dinyatakan bahwa: “Pendukung dan penunjang pelaksanaan pendidikan yang terwujud sebagai tenaga, sarana, dan prasarana yang tersedia dan didayagunakan oleh keluarga, masyarakat, peserta didik dan pemerintah, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama”. Hal tersebut menunjukkan bahwa peran serta masyarakat dan orangtua bertujuan mendayagunakan kemampuan yang ada pada orangtua dan masyarakat bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan, terlebih pada era otonomi sekolah (Manajemen Berbasis Sekolah) saat ini peran serta orangtua dan masyarakat sangat menentukan.

 

Indrayani, Ni Made, faktor-faktor penyebab pindah agama dan cara penenggulangannya di kalangan umat hindu                                                                                                                                81

Desa Harapan Jaya Kecamatan Semendawai Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU Timur) terletak tidak jauh dari kota. Masyarakat di Desa Harapan Jaya mayoritas beragama Hindu yang merupakan pendatang dari bali. Jika dilihat dari keadaan pendidikannya, di Desa Harapan Jaya banyak sekali remaja yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.  Sehingga banyak remaja yang hanya bekerja sebagai buruh deres. Selain remaja, orangtua yang ada Di Desa Harapan Jaya juga kebanyakan lulusan SD dan SMP sehingga kurang memberi motivasi kepada anak untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Orangtua disana hanya mengingatkan anaknya bahwa pendidikan itu penting tetapi tidak memberikan semangat dan motivasi yang tinggi kepada anaknya. Meskipun warga Di Desa Harapan Jaya mayoritas beragama hindu tetapi sekolah-sekolah yang bernuansakan hindu masih sangat sedikit bahkan bisa dibilang kurang. Sekolah yang sudah dibangun di Desa Harapan jaya hanya dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai Sekolah Dasar  (SD) itu pun dengan tenaga pengajar 99% orang muslim, sedangkan untuk bangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) siswanya harus rela mencari dan melanjutkan pendidikannya kedesa sebelah sehingga jarak meraka untuk berangkat kesekolah cukup jauh.

Warga Desa Harapan Jaya yang sebagian besar orangtua dari siswanya berada dalam kondisi sosial ekonomi menengah dan berdasarkan biodata siswa pada saat melaksanakan survey pendahuluan, mata pencahariaan dari orangtua disana sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani tetapi petani ini termasuk dalam kategori petani sukses karena mereka kebanyakan memiliki lahan sendiri serta dalam jumlah yang cukup luas sehingga tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan pendidikan anaknya ke perguruan tinggi. Hal ini terbukti dengan kurangnya minat  anak yang lulusan SMA yang mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sehingga sampai saat ini hanya ada beberapa kaum pemuda yang memiliki gelar kelulusan dari perguruan tinggi. Salah satu faktor yang diduga memberi andil didalam menentukan keberhasilan pendidikan seorang anak adalah peran orangtua.

 

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah Penelitian Kualitatif. Data yang dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan berbagai metode dan teknik antara lain: metode wawancara, metode observasi, metode dokumentasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. Faktor Ekonomi

      Wawancara menurut pendapat Wayan Birma, umur 22 Tahun mengatakan bahwa melanjutkan pendidikan Keperguruan Tinggi itu tidak penting karena gajih yang akan kita peroleh masih tinggi gajih seorang tukang deres dan waktu bekerjanya pun tidak seharian penuh. Hal inilah yang mebuat dia tidak melanjutkan pendidikan Keperguruan Tinggi

Dari hasil wawancara dapat dijelaskan bahwa kekurang pahaman tentang pentingnya melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi.

Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga “belajar” tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen.

 Pendidikan merupakan suatu proses menyiapkan individu untuk mampu menyesuaikan diri dengan perubahan diri dengan perubahan lingkungan. Pendidikan mempunyai peran penting dalam pembangunan nasional karena pendidikan merupakan salah satu cara untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Generasi muda merupakan generasi penerus bangsa. Perkembangan kemajuan bangsa sedikit banyak berada di tangan generasi muda. Generasi muda yang berpendidikan dan berprestasi diharapkan mampu membawa negeri ini menghadapi persaingan global, khususnya dalam bidang pendidikan

 Dalam kamus bahasa indonesia, 1991:232, tentang pengertian pendidikan, yang berasal dari kata “didik”, lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Langeveld dalam Hasbullah (2005) mmengungkapkan bahwa pendidikan ialah setiap usaha, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewaan anak tersebut, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Sedangkan John Dewey mengatakan bahwa ” Pendidikan adalah membentuk manusia baru melalui perantaraan karakter dan fitrah, serta dengan mencontoh peninggalan – peninggalan budaya lama masyarakat manusia”. Jean-Jacques Rousseau menyatakan bahwa “Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, tetapi kita membutuhkannya di waktu dewasa.”

 Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, 1889 – 1959) merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti ( karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”. Lebih lanjut Carter V. Good menyatakan bahwa pendidikan ialah seni, praktik, atau profesi sebagai pengajar serta pendidikan juga merupakan ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode-metode mengajar, pengawasan dan memberikan bimbingan kepada anak atau murid dalam arti luas diartikan dengan istilah pendidikan.

Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989, pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan bagi perannya dimasa yang akan dating. Menurut UU No. 20.Th  2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

 

  1. Kurangnya Motivasi Orangtua

Dari hasil wawancara Nyoman Rais dapat dijelaskan bahwa selain minat dan harapan anak tersebut untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi, dukungan dari orangtua sangat berperan penting untuk mendorong anaknya agar menjadi semangat untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi semangat belajar siswa.  Seorang siswa yang mempunyai intelegensi yang cukup tinggi, bisa gagal karena kurang adanya motivasi dalam belajarnya karena bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga siswa terdorong untuk melakukan perbuatan belajarnya. Karena tidak ada dukungan dari orangtua untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi maka  memilih untuk bekerja diladang karena bekerja diladang bebas dilakukan oleh siapa saja meski dia tidak memiliki ijazah sekalipun.

Dari hasil wawancara tersebut dapat dijelaskan bahwa Motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).

Menurut Mc. Donald yang dikutip oleh Sardiman A.M (1986) dalam bukunya yang berjudul Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, menyatakan motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen atau ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya “feeling”, dan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dasi suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena rangsangan atau terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.

Dengan ketiga elemen diatas, maka dapat dikatakan bahwa motivasi itu sebagai sesuatu kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Semua ini didorong karena adanya tujuan kebutuhan atau keinginan.

Setiap individu memiliki kondisi internal, di mana kondisi internal tersebut turut berperan dalam aktivitas dalam dirinya sehari-hari. Salah satu dari kondisi internal tersebut adalah motivasi.

Menurut Dr Hamzah (2006) motivasi adalah dorongan dasar penggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada dalam diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu, perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya.

Motivasi juga dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan dan mau melaksanakan. Motivasi lebih dekat pada mau melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan. Motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Atau dengan kata lain, motivasi dapat juga dapat diartikan sebagai dorongan mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat. Motivasi juga dapat diartikan sebagai proses untuk mencoba memengaruhi orang atau orang-orang yang dipimpinnya agar melakukan sesuatu pekerjaan yang diinginkan, sesuai dengan tujuan tertentu yang ditetapkan lebih dahulu.

Manusia dalam kehidupannya dewasa ini tidak dapat memenuhi kebutuhannya tanpa bantuan orang lain, baik kebutuhan biologis, kebutuhan ekonomis, maupun kebutuhan orang lain. Manusia didalam memenuhi kebutuhannya, sering mengadakan hubungan atau memerlukan bantuan orang lain. Tanpa bantuan, orang yang bersangkutan tidak berarti sama sekali. Oleh Karen itu, manusia cenderung hidup berkelompok atau berorganisasi, sebagai upaya untuk saling memenuhi kebutuhannya. Kecenderungan manusia untuk saling membantu atau saling memenuhi kebutuhan serta kecenderungan untuk berkelompok ini merupakan pertanda bahwa manusia memiliki keterbatasan dan bahkan sangat terbatas. Motivasi ada dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ektrinsik.

  1. Motivasi Intrinsik adalah jenis motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
  2. Motivasi Ekstrinsik adalah jenis motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar

Solusi Supaya Minat Remaja Melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi adalah Peran Kedua Orangtua dalam Memotivasi Anak untuk Melanjutkan Pendidikan.

Orangtua sangat berperan penting dalam mendidik anak karena pendidikan yang utama dan sangat menentukan karakter sang anak. Peranan-peranan tersebut antara lain:

  1. Kedua orangtua harus mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Ketika anak-anak mendapatkan cinta dan kasih sayang cukup dari kedua orang tuanya, maka pada saat mereka berada di luar rumah dan menghadapi masalah-masalah baru mereka akan bisa menghadapi dan menyelesaikannya dengan baik. Sebaliknya jika kedua orang tua terlalu ikut campur dalam urusan mereka atau mereka memaksakan anak-anaknya untuk mentaati mereka, maka perilaku kedua orang tua yang demikian ini akan menjadi penghalang bagi kesempurnaan kepribadian mereka.
  2. Kedua orangtua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan ketenangan jiwa anak-anak. Karena hal ini akan menyebabkan pertumbuhan potensi dan kreativitas akal anak-anak yang pada akhirnya keinginan dan Kemauan mereka menjadi kuat dan hendaknya mereka diberi hak pilih.
  3. Saling menghormati antara kedua orangtua dan anak-anak. Saling menghormati artinya dengan mengurangi kritik dan pembicaraan negatif yang berkitan dengan kepribadian dan perilaku mereka serta menciptakan suasana yang penuh dengan kasih sayang dan keakraban. Kedua orang tua harus bersikap tegas supaya mereka juga mau menghormati sesamanya.
  4. Mewujudkan kepercayaan. Menghargai dan memberikan kepercayaan terhadap anak-anak berarti memberikan penghargaan dan kelayakan terhadap mereka, karena hal ini akan menjadikan mereka maju dan berusaha serta berani dalam bersikap. Kepercayaan anak-anak terhadap dirinya sendiri akan menyebabkan mereka mudah untuk menerima kekurangan dan kesalahan yang ada pada diri mereka. Mereka percaya diri dan yakin dengan kemampuannya sendiri.
  5. Mengadakan perkumpulan antara orangtua dan anak. Dengan melihat keingintahuan fitrah dan kebutuhan jiwa anak, mereka selalu ingin tahu tentang dirinya sendiri. Tugas kedua orang tua adalah memberikan informasi tentang susunan badan dan perubahan serta pertumbuhan anak-anaknya terhadap mereka. Selain itu kedua orang tua harus mengenalkan mereka tentang masalah keyakinan, akhlak dan hukum-hukum agama serta kehidupan manusia. Jika kedua orang tua bukan sebagai tempat rujukan yang baik dan cukup bagi anak-anaknya maka anak-anak akan mencari contoh lain; baik atau buruk dan hal ini akan menyiapkan sarana anak dalam melukan tindakan yang kurang baik dalam bertingkah laku.

 Ayah dan ibu adalah satu-satunya teladan yang pertama bagi anak-anaknya dalam pembentukan kepribadian. orangtua juga berperan dalam proses pendidikan di sekolah. Peranan orangtua untuk memotivasi pendidikan disekolah dapat dilakukan dengan cara:

  1. Membimbing anak untuk terus melanjutkan apa yang sudah diberikan oleh guru di sekolah.
  2. Menemukan minat-minat anak yang kemudian hasilnya dapat dikomunikasikan dengan pihak sekolah.
  3. Mengkomunikasikan masalah-masalah pendidikan sekolah anak dengan pihak sekolah.
  4. Memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar.

Ada beberapa cara dalam meningkatkan peran orangtua dalam memotivasi  pendidikan anak-anak mereka antara lain :

  1. Mengontrol waktu belajar dan cara belajar anak. Anak-anak diajarkan untuk belajar secara rutin, tidak hanya belajar saat mendapat pekerjaan rumah dari sekolah atau akan menghadapi ulangan. Setiap hari anak-anak diajarkan untuk mengulang pelajaran yang diberikan oleh guru pada hari itu. Dan diberikan pengertian kapan anak-anak mempunyai waktu untuk bermain.
  2. Memantau perkembangan kemampuan akademik anak. Orangtua diminta untuk memeriksa nilai-nilai ulangan dan tugas anak mereka.
  3. Memantau perkembangan kepribadian yang mencakup sikap, moral dan tingkah laku anak-anak. Hal ini dapat dilakukan orangtua dengan berkomunikasi dengan wali kelas untuk mengetahui perkembangan anak di sekolah.
  4. Memantau evektifitas jam belajar di sekolah. Orangtua dapat menanyakan aktifitas yang dilakukan anak mereka selama berada di sekolah. Dan tugas-tugas apa saja yang diberikan oleh guru mereka. Kebanyakan siswa tingkat SMP dan SMA tidak melaporkan adanya kelas-kelas kosong dimana guru mereka berhalangan hadir. Sehingga pembelajaran yang ideal di sekolah tidak terjadi dan menjadi tidak efektif.

  Selain semua hal tersebut di atas ada beberapa hal lain perlu diperhatikan yaitu membantu anak mengenali dirinya (kekuatan dan kelemahannya), membantu anak mengembangkan potensi sesuai bakat dan minatnya, membantu meletakkan pondasi yang kokoh untuk keberhasilan hidup anak dan membantu anak merancang hidupnya.

 Apabila orangtua mampu menunjukkan kepada anak betapa orangtua sangat mencintai dan menyayanginya, dengan selalu mengekspresikan perhatian secara mendetail terhadap kehidupan anak sejak ia masih kecil, maka hal ini akan menciptakan suatu kebiasaan seumur hidup yang memberikan manfaat bagi orangtua.

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

  1. Faktor penyebab banyaknya remaja lebih memilih bekerja dikebun daripada melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi adalah karena beberapa faktor antara lain karena masalah ekonomi, kurangnya dukungan dari orangtua, anggapan remaja yang salah yakni lebih memilih bekerja diladang yang dianggap memiliki penghasilan yang lebih tinggi dari pada gaji dari seoraang PNS dan juga pengaruh lingkungan sekitar yang jarang sekali umat Hindu di Desa Harapan Jaya yang memiliki gelar sebagai sarjana. Faktor yang paling utama yaitu kurangnya perhatian dan kasih sayang orangtua kepada anak sehingga minat yang tadinya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi kini menjadi hilang karena kurangnya rasa percaya diri seorang anak.
  2. Peran dan pangaruh orangtua dalam memotivasi anak dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sangat penting untuk diperhatikan. Tetapi dari hasil wawancara kepada tokoh masyarakat, orangtua dan remaja di Desa Harapan Jaya Orangtua sudah salah dalam mendidik anak, mereka masih beranggapan bahwa pendidikan tidak lah penting yang terpenting sehingga mereka tidak pernah memperhatiakan bagaimana kegiatan sekolah anaknya. Mereka malah mengajarkan kepada anak mereka untuk bekerja diladang karena karena dengan anak mereka bekerja diladang maka anak tersebut bisa mendapatkan gaji yang lebih tinggi daripada gaji dari seorang PNS. Sedangkan jika anak tersebut kuliah dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maka orangtua akan banyak mengeluarkan uang dan untuk mengembalikan modal dari biaya kuliah pun sangat lama.

 

 

SARAN

 

Saran yang dapat diberikan adalah:

  1. Kepada generasi muda Hindu pada umunya dan khususnya generasi muda Hindu yang terdapat di Desa Harapan Jaya salah satu cara agar bisa memiliki pengetahuan yang luas, memiliki pengetahuan akademik adalah dengan cara melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena karena pendidikan di perguruan tinggi merupakan tempat kita memperoleh ilmu yang bisa kita gunakan untuk bekal kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu merubah keadaan ekonomi serta meningkatkan derajad keluarga kita di masyarakat.
  2. Kepada orangtua pada umumnya dan khususnya orangtua di Desa Harapan Jaya agar lebih memahami bagaimana cara mendidik anak yang benar sehingga mampu meningkatkan perannya sebagai orangtua serta menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya karena masa depan seorang anak tergantung bagaimana cara orangtua tersebut mendidik anaknya. Orangtua juga harus menyadari bahwa dalam menginfestasikan uang tidak harus dengan bekerja diladang yang merupakan pekerjaan yang paling mudah tanpa meneluarkan biaya banyak tetapi bisa mendapatkan uang, tetapi dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi juga merupakan cara yang paling tepat untuk menginfestasikan uang karena didalam perguruan tinggi anak mereka bisa mendapatkan ilmu pendidikan yang tidak akan ada habisnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, Abu. 1997. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Amri,Sofan.dkk. 2011 . Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya.

Dimyati dan Mudjiono. 2013. Motivasi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

F.J. Monks, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan, Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Hasbullah. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Ihsan, Fuad.2011. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Nugroho, Riant.2008. Kebijakan Pendidikan Yang Unggul. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Nata, Abuddin. 2012. Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Poerwadarminto, W J S. 2002. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Putra, Nusa dan Dwilestari, Ninin. 2012. Penelitian Kualitatif Paud Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Rachmawati, Yeni dan Kurniati, Euis. 2011. Strategi Pengembangan Kreativitas pada Anak Usia Taman Kanak-kanak. Jakarta: Kencana.

Sarlito Wirawan Sarwono, 2001. Psikologi Remaja, Jakarta:Radja Grafindo Persada.

Syarbini, Amirulloh. 2014. Model Pendidikan Karakter Dalam Keluarga. Jakarta: Gramedia.

Sardiman. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sugiyono. 2011. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Satu tanggapan untuk “FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA MINAT REMAJA UNTUK MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE PERGURUAN TINGGI DAN SOLUSINYA (Study Kasus di Desa Harapan Jaya Kecamatan Semendawai Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur)

  • Oktober 16, 2017 pada 11:26 pm
    Permalink

    Saya ridho dari banjarmasin, kita mempunyai banyak kesamaan tentang daerah dan pola pikir masyarakat desa. Saya terlahir di desa terpencil dekat perbatasan kabupaten banjar dan kabupanten tanah bumbu (Kal-sel), dimana secara struktur pembangunan, desa kami juga belum memiliki bangunan Fisik SMP/A apa lagi perguruan tinggi, saya sering bercerita dengan anak-anak, Dewasa bahkan para orang tua, jawabanya selalu sama. Pendidikan gak usah tinggi-tinggi, yang penting bisa membaca dan bisa menghitung nominal uang, karena orang desa seperti kami hanya pantas bekerja di perbatasan dan para wanita pada akhirnya akan bekerja di dapur juga.

    Saya sangat senang dengan journal ini, saya berharap journal ini terus berkembang, sehingga makin memotivasi anak bangsasecara keseluruhan tidak memandan ras, suku dan agama apapun, dan semua orang berhak memilik belajar dengan ilmu yang mereka sukai.

    Salam kenal dari kota seribu sungai

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *